Repelita Jakarta - Aktivis senior Sri Bintang Pamungkas menyampaikan pandangan kritis mengenai dinamika politik nasional yang dinilainya semakin mengkhawatirkan kedaulatan negara.
Pernyataan tersebut dikemukakan dalam sebuah perbincangan mendalam yang disiarkan secara daring melalui kanal YouTube resmi Shofat TV pada tanggal 30 September 2025.
ADVERTISEMENT
Sri Bintang Pamungkas menyebut bahwa arah pergerakan tokoh-tokoh sentral pemerintahan saat ini berpotensi membawa dampak buruk bagi stabilitas bangsa jika terus dibiarkan tanpa tindakan nyata.
"gerakan yang dilakukan serentak oleh Wowok dan Wiwi justru menjadi peluang bagi rakyat untuk menepalkan berjim itu sudah bisa Mas," kata Sri Bintang Pamungkas dalam diskusi di YouTube Shofat TV.
Lebih lanjut, ia memberikan catatan khusus mengenai rentetan peristiwa nasional terdahulu seperti aksi massa pada akhir Agustus 2025 yang sempat memicu penahanan ribuan orang tanpa kejelasan hukum.
Ia berargumen bahwa ketidakpastian tersebut beriringan dengan adanya indikasi pembiaran terhadap pergerakan berideologi tertentu yang belakangan ini diistilahkan sebagai kemunculan kelompok komunisme gaya baru.
Kekhawatiran itu dirasakannya kian menebal seiring mencuatnya berbagai agenda politik seperti gerakan kristenisasi hingga peluncuran buku bernuansa khusus yang dinilainya mempermainkan nilai-nilai keagamaan.
Tokoh pergerakan ini juga mengungkit kegagalan sebagian kalangan pemuka agama yang dianggap kurang tanggap dalam mengantisipasi ancaman pemisahan spiritualitas dari kehidupan bermasyarakat.
Di sisi lain, kondisi perekonomian domestik yang sedang mengalami tekanan hebat dinilai terjadi akibat kegagalan tata kelola otoritas keuangan serta kementerian terkait yang tidak berpihak kepada publik.
Sri Bintang Pamungkas melihat kemunduran sektor finansial tersebut justru dapat dikonversi menjadi momentum persatuan bagi seluruh elemen masyarakat untuk melakukan perlawanan secara masif.
Ia menyamakan potensi gerakan di ibu kota layaknya pergolakan radikal di Nepal yang sempat didorong oleh generasi muda setempat hingga sukses membuahkan perubahan besar dalam sistem pemerintahan mereka.
Oleh karena itu, ia mengimbau jutaan massa dari berbagai pelosok daerah untuk segera merapatkan barisan dan menyusun strategi matang guna mendatangi kompleks parlemen Senayan di Jakarta pada bulan Oktober.
Konsolidasi akbar tersebut diserukan sebagai bentuk perang rakyat semesta demi mendesak pergantian rezim penguasa serta mengembalikan marwah tata negara Indonesia agar murni bersandar pada Pancasila dan UUD 1945 asli.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok