Repelita Jakarta - Wacana duet antara Anies Baswedan dan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai pasangan calon presiden dan calon wakil presiden untuk Pemilihan Presiden 2029 mendatang kian santer diperbincangkan di ranah publik setelah diulas secara mendalam melalui tayangan visual terbaru.
Langkah politik dari mantan Gubernur Jakarta tersebut dinilai memiliki bobot yang sangat diperhitungkan oleh berbagai pihak, terlebih dengan adanya potensi dukungan kuat dari sejumlah partai politik besar seperti Nasdem, PGR, hingga Partai Keadilan Sejahtera yang diprediksi segera merapat.
ADVERTISEMENT
Kanal YouTube Politik Dangi mengonfirmasi bahwa narasi penjodohan kedua tokoh nasional ini murni digagas oleh para netizen yang memandang keduanya sebagai kombinasi figur profesional dengan rekam jejak serta prestasi yang sangat mumpuni di pemerintahan.
Menurut pembicara dalam video di kanal YouTube Politik Dangi, keputusan Anies untuk tetap berada di jalur luar pemerintahan menunjukkan integritas tinggi karena beliau menerima kekalahan sebagai seorang kesatria dan mengambil sikap sebagai oposisi yang sangat bermartabat.
Di sisi lain, pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dari jabatan menteri keuangan pada masa lalu sempat memicu kehebohan besar di tengah masyarakat lantaran kinerjanya selama ini dinilai sangat bagus dan memiliki kontribusi yang nyata bagi perekonomian domestik.
Pembicara dari akun YouTube Politik Dangi juga menambahkan bahwa Partai Gerakan Rakyat yang merupakan wadah politik bagi sang mantan gubernur kini sudah mengambil langkah cepat dengan mendeklarasikan Anies sebagai calon presiden demi memperlihatkan keseriusan kepada publik.
Dalam potongan video yang diunggah ulang tersebut, Anies Baswedan sempat memberikan pandangan kritis mengenai pengelolaan negara dengan menyatakan bahwa jika kita mengharapkan iqra ini dipakai oleh negara maka negara menjadi negara yang tidak alergi dengan kritik.
Lebih lanjut, tokoh publik tersebut menyoroti fenomena penurunan independensi pers nasional seraya berujar bahwa akhir-akhir ini kita menyaksikan media-media banyak yang mengurangi porsi kritik bahkan cenderung diam cenderung membatasi diri sendiri.
Ia menilai tekanan sistematis yang terjadi saat ini tidak lagi menyasar para pekerja lapangan, melainkan menyasar level pengambil kebijakan media karena di situlah kemudian mulai muncul sensorship dan seringkali yang ditekan bukan jurnalis melainkan pemilik media. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok