Repelita [Jakarta] - Gelombang unjuk rasa yang digerakkan mahasiswa serta berbagai elemen masyarakat kini meluas secara masif di berbagai penjuru tanah air.
Para pengunjuk rasa lantang menuntut penghentian program Makan Bergizi Gratis serta inisiatif Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih.
ADVERTISEMENT
Di Medan, Sumatera Utara, massa aksi bahkan membentangkan spanduk bertuliskan Gulingkan rezim Prabowo-Gibran. Kembalikan supremasi sipil sebagai bentuk protes keras.
Aksi ini bermula dari pergerakan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia pada Jumat (12/6/2026), yang kemudian memicu demonstrasi susulan di banyak daerah.
Hari ini, Kamis (18/6/2026), giliran mahasiswa di Samarinda, Kalimantan Timur, dan Batam, Kepulauan Riau, yang turun ke jalan menyuarakan aspirasi mereka.
Di Medan, aksi protes pada Rabu (17/6/2026) bergeser dari gedung DPRD menuju depan kantor Kodim 0201 setelah massa membakar dua ban bekas di lokasi tersebut.
Ketua DPC GMNI Kota Medan, Damses Sianturi, menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan luapan kekecewaan atas kepemimpinan nasional saat ini.
Ini puncak dari keresahan mahasiswa, bahwasanya hari ini kita melihat ketidakmampuan rezim Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming dalam memimpin bangsa ini. Banyaknya kebijakan yang tidak berpihak satu pun kepada rakyat, ujar Damses.
Damses menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga BBM non-subsidi sebagai indikator kegagalan pemerintahan dalam menyejahterakan rakyat.
Terkait aksi di depan Kodim, pihaknya mendesak agar militer tidak lagi terlibat dalam urusan administrasi pemerintahan maupun jabatan publik.
Agar militer itu tidak lagi menduduki jabatan-jabatan sipil. Biarlah militer kembali ke barak. Biarlah militer kembali ke fungsinya sebagai militer. Agar militer itu tidak lagi masuk ke dalam ranah-ranah pemerintahan, tegasnya.
Mahasiswa juga keberatan dengan keterlibatan TNI dalam program pangan hingga rencana perluasan batalion yang dinilai memboroskan anggaran negara.
Kemudian tuntutan kita yang ketiga itu adalah agar ditunda atau dihentikannya pembangunan batalion di setiap kabupaten kota dan penambahan pasukan. Karena itu tidak arti, untuk saat ini tidak ada urgensi strategisnya. Dan itu juga bagian dari pemborosan anggaran, ungkapnya.
Sementara itu, demonstrasi di Sukabumi, Jawa Barat, pada Rabu (17/6/2026) dilaporkan sempat memanas dan diwarnai aksi vandalisme terhadap fasilitas umum.
Massa yang tergabung dalam aliansi mahasiswa diketahui melakukan pencoretan pada billboard, pos polisi, serta merusak sejumlah pembatas jalan di sepanjang rute unjuk rasa. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok