Berita, Nasional

[GEGER] Ekonom Feri Latuhihin Beri Nilai Minus Satu Untuk Sektor Ekonomi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Repelita.id

19 October 2026 19:22 WIB

[GEGER] Ekonom Feri Latuhihin Beri Nilai Minus Satu Untuk Sektor Ekonomi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran
Foto: Istimewa


Repelita Jakarta - Ekonom senior Prof Feri Latuhihin melayangkan penilaian yang teramat rendah terhadap pencapaian stabilitas finansial negara selama dua tahun berjalannya pemerintahan nasional.

ADVERTISEMENT

Ia secara blak-blakan memberikan nilai yang sangat buruk bagi perkembangan iklim investasi akibat maraknya fenomena pelarian modal asing dari pasar keuangan domestik.

Pernyataan teoritis serta ulasan makroekonomi yang sangat tajam tersebut disiarkan secara visual melalui tayangan video orisinal di kanal YouTube Opini Rakyat.

Dalam forum diskusi pakar itu, Prof Feri Latuhihin menerangkan kekecewaannya secara terbuka semenjak melihat komposisi jajaran pejabat pengelola sektor keuangan negara.

"2 tahun pemerintahan Prabowo ini itu kan yang dimain ya itu kalau boleh bilang gua gua mesti nilai nih bos ya dari satu dari 1 sampai 10 itu nilainya minus1 Seriuslah minus sat Ekonomi ini minus sat Ya minus satu karena mundur" tegas Prof Feri Latuhihin pada Senin (19/10/2026).

Menurut analisisnya, ketidakpastian hukum serta ketidakmampuan instansi moneter dalam menjaga nilai tukar rupiah membuat posisi Indonesia kian terpuruk di mata dunia internasional.

"Gua sebagai ekonom enggak ngelihat outlook ke depan Indonesia ini akan baik-baik saja Justru gua khawatir Bos I m afraid 6 sampai 8 bulan ke depan ini sor ya dengan masyarakat yang stres" pungkas Prof Feri Latuhihin di akhir ulasannya.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Lingkar Madani Ray Rangkuti turut membenarkan adanya penurunan legitimasi kekuasaan berdasarkan temuan riset SMRC yang mencatat kepuasan publik jatuh di bawah 50 persen.

"ya kita kan enggak perlu lagi menjelaskannya karena banyak survei yang sudah menyebutkan tingkat kepuasan yang makin merosot Ya terakhir seingat saya adalah ee SMRC yang menyebutkan tingkat kepuasan sekarang sudah di bawah 50%" papar Ray Rangkuti.

Kondisi tersebut dipertegas oleh pengamat sosiologi politik Ubedilah Badrun yang menyoroti melonjaknya angka gangguan psikologis massal di tengah masyarakat akibat impitan pemenuhan kebutuhan hidup.

"data yang dari Kementerian Kesehatan 80 juta penduduk ini mengalami gangguan jiwa 80 juta ya 80 juta orang Jadi ada faktor ekonomi yang paling dominan untuk mempengaruhi itu" ungkap Ubedilah Badrun.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok









TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung