Berita, Publika Repelita

Gaya Komunikasi, Penyakit ABS, dan Bayang-Bayang "Londo Ireng" dalam Panggung Kekuasaan

Repelita.id

31 July 2026 22:07 WIB

Gaya Komunikasi, Penyakit ABS, dan Bayang-Bayang "Londo Ireng" dalam Panggung Kekuasaan
Foto: Istimewa

Oleh: Rina Syafri

Dinamika politik Indonesia kembali diwarnai oleh perdebatan publik menyusul beredarnya potongan video yang menampilkan gaya komunikasi Prabowo Subianto. Di satu sisi, video tersebut memperlihatkan ciri khas kepribadian yang spontan; namun di sisi lain, hal ini memicu gelombang kritik, nasihat tulus dari masyarakat, hingga perbincangan mendalam mengenai kultur birokrasi dan istilah historis modern seperti "londo ireng". Realitas ini membuka ruang refleksi yang luas mengenai bagaimana seorang pemimpin merespons suara rakyat di tengah kepungan lingkar kekuasaan.

ADVERTISEMENT

Opini tentang Gaya Komunikasi Prabowo Subianto

Video tersebut memperlihatkan gaya khas Prabowo Subianto yang sering kali lepas dari teks resmi (off-the-cuff), diselingi candaan, serta respons spontan terhadap masukan publik maupun tim ahlinya dengan nada satir atau humor.

Gaya Autentik vs. Risiko Salah Ucap: Sebagian pendukung melihat gaya ini sebagai bentuk otentisitas, spontanitas, dan kedekatan—menunjukkan bahwa ia adalah figur yang apa adanya dan tidak kaku. Namun, di sisi lain, para pengkritik melihatnya sebagai sikap "bebal" atau abai terhadap nasihat strategis dari tim ahli, yang dikhawatirkan dapat memicu blunder komunikasi politik di hadapan publik luas.

Hubungan dengan Media: Dalam video tersebut, Prabowo juga menyinggung bagaimana para wartawan kerap menunggu momen "di luar teks" karena hal tersebut sering kali dijadikan bahan berita utama yang menarik (clickbait atau kontroversi). Ini menunjukkan kesadarannya bahwa spontanitasnya sering kali menjadi pedang bermata dua.

Catatan Analitis: Spontanitas politik sering kali menjadi daya tarik personal, namun dalam panggung kekuasaan nasional, setiap gestur dan kalimat yang terucap lepas dari naskah resmi memiliki implikasi kebijakan dan psikologis yang besar bagi publik.

Kritik Publik dan Fenomena ABS (Asal Bapak Senang)

Komentar netizen yang mengingatkan agar "hati-hati pada orang-orang yang ABS (Asal Bapak Senang) ke kamu" menyoroti penyakit klasik yang tak pernah usai dalam birokrasi dan lingkaran kekuasaan di Indonesia.

Bahaya Lingkungan Istana: Fenomena ABS adalah ancaman nyata bagi setiap pemimpin. Ketika orang-orang di sekeliling pemimpin hanya memberikan pujian, menjilat, dan menyaring informasi buruk agar pemimpin tidak tersinggung, pemimpin tersebut perlahan akan terisolasi dari realitas objektif di tingkat akar rumput.

Pentingnya Kritik: Kritik yang disampaikan oleh rakyat—sekalipun dikemas dalam bentuk teguran yang tajam—seharusnya tidak pernah dianggap sebagai bentuk kebencian. Ia adalah instrumen kontrol sosial yang vital agar seorang pemimpin tetap membumi dan mampu mendengar denyut nadi masyarakat yang sebenarnya.

Kaitannya dengan Isu "Londo Ireng"

Istilah "Londo Ireng", yang secara historis merujuk pada kaum pribumi yang bekerja atau berpihak pada kepentingan kolonial Belanda demi keuntungan pribadi dan golongan, kini sering kali diserap dalam konteks politik modern.

Kekuasaan yang Menjauh dari Rakyat: Istilah ini kerap dipakai oleh kritikus untuk menggambarkan lingkaran kekuasaan atau elite lokal yang perilakunya, kebijakannya, atau gaya hidupnya justru merugikan rakyat kecil, serta lebih melayani kepentingan asing, oligarki, atau kelompok elit tertentu saja.

Peringatan Krisis Kepercayaan: Jika seorang pemimpin dianggap terlalu dikelilingi oleh orang-orang yang tidak pro-rakyat atau bersikap defensif terhadap kritik, narasi "londo ireng" modern ini berpotensi berkembang di tengah masyarakat. Hal ini mencerminkan kekecewaan mendalam bahwa kemerdekaan dan kekuasaan belum sepenuhnya berpihak pada kesejahteraan rakyat banyak.

Kesimpulan

Ketegangan antara seorang pemimpin dan rakyat yang memberikan kritik adalah sebuah keniscayaan sekaligus dinamika yang lumrah dalam negara demokrasi. Agar tidak berujung pada rasa bosan, apatis, dan kemarahan publik—seperti yang dikhawatirkan dalam pesan-pesan moral dari masyarakat—seorang pemimpin besar dituntut memiliki kepekaan ekstra. Pemimpin harus mampu membedakan dengan jernih: mana kritik yang membangun dari rakyat yang tulus mencintai negerinya, dan mana para penjilat bermental ABS yang justru siap menjerumuskan demi kepentingan sesaat.



@suaraakarrumputt Sikap bebal dan keras kepala kembali dipertontonkan oleh Presiden Prabowo Subianto setelah dirinya secara terbuka mengejek sekaligus mengabaikan peringatan penting dari tim penasihat kepresidenan pada Kamis 23 Juli 2026 malam. Masyarakat menilai aksi pamer kebebalan yang dilontarkan di atas podium puncak Hari Lahir PKB tersebut sebagai bentuk arogansi elite yang menolak tunduk pada pakem komunikasi formal seorang kepala negara. Dalam pidatonya yang sarat sindiran, mantan Danjen Kopassus itu justru menjadikan draf pidato resmi yang telah disiapkan secara matang sebagai bahan lelucon dengan menyebut teks tersebut bisa membuatnya tertidur. Nalar publik dibuat heran lantaran Prabowo secara sadar menolak saran tim ahli untuk membaca teks demi menghindari kekeliruan fatal yang selama ini kerap memicu kegaduhan di ruang publik. Gaya komunikasi yang ugal-ugalan ini kian diperparah dengan alibi sang presiden yang merasa ucapan luar teksnya sengaja dinantikan oleh awak media demi komoditas pemberitaan harian. Sikap menolak diatur dan meremehkan masukan internal ini dinilai pengamat politik kian mempertegas watak asli kepemimpinan rezim baru yang abai terhadap asas kehati-hatian dalam bernegara. #suaraakarrumput ♬ suara asli - suaraakarrumput

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung