Berita, Nasional

Gatot Nurmantyo Peringatkan Triple Crisis Ekonomi, Menkeu Pastikan Pembayaran Utang Masih Sesuai Perhitungan

Repelita.id

08 June 2026 19:49 WIB

Gatot Nurmantyo Peringatkan Triple Crisis Ekonomi, Menkeu Pastikan Pembayaran Utang Masih Sesuai Perhitungan
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Mantan Panglima TNI, Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo, memberikan peringatan keras mengenai potensi krisis ekonomi yang mengintai Indonesia akibat tiga persoalan struktural utama.

Dalam sebuah forum purnawirawan, ia menyoroti fenomena deindustrialisasi dini, tekanan pada fiskal negara, serta kerentanan nilai tukar rupiah sebagai ancaman serius.

ADVERTISEMENT

Gatot menekankan bahwa pelemahan sektor industri yang terjadi konsisten selama sepuluh tahun terakhir menjadi akar utama dari triple crisis tersebut.

"Sebenarnya kalau kita bedah, saat ini sedang terjadi triple crisis dalam struktur ekonomi Indonesia. Akar masalah utamanya adalah deindustrialisasi dini yang terjadi secara perlahan namun konsisten selama 10 tahun terakhir," ungkap Gatot.

Penurunan kapasitas industri ini dinilai memicu gelombang pemutusan hubungan kerja serta menurunkan kemampuan negara dalam menghimpun penerimaan pajak.

"Jika sektor formal mengecil, maka penerimaan pajak negara otomatis mengecil. Dengan mengecilnya penerimaan, APBN tidak memiliki ruang yang cukup untuk dialokasikan ke sektor-sektor penting," tegas Gatot.

Selain itu, ia mengaitkan kerapuhan nilai tukar rupiah dengan rendahnya devisa hasil ekspor akibat lemahnya produksi dalam negeri.

"Kerapuhan rupiah terjadi karena industri dan produksi dalam negeri lemah, sehingga devisa yang masuk dari ekspor juga lemah," jelasnya.

Gatot bahkan memperingatkan bahwa jika tidak segera diantisipasi, kondisi ekonomi saat ini berisiko menyerupai situasi menjelang krisis moneter tahun 1998.

Menanggapi pelemahan nilai tukar yang menembus Rp18.000 per dolar AS pada Kamis (4/6/2026), Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pembayaran utang tetap dalam koridor perhitungan pemerintah.

Purbaya mengakui bahwa beban pembayaran utang dalam rupiah memang meningkat, namun ia menekankan bahwa mayoritas surat utang memiliki bunga tetap.

"Pembayaran utang kan lewat kupon ya. Kuponnya sih konstan, cuma pada waktu rupiah melemah ya meningkat kan dalam rupiah pembayarannya," terang Purbaya.

Menurutnya, pemerintah telah melakukan berbagai simulasi untuk mengantisipasi gejolak ekonomi global, termasuk skenario rupiah melemah di luar asumsi APBN awal.

"Cuma kan gini, ini masih dalam range perhitungan kita yang sebelumnya saya sebutkan itu," tambah Purbaya. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung