Berita, Nasional

Gatot Nurmantyo Buka Suara: Saya Ditendang Karena Tolak Naikkan Pangkat Titipan Jokowi

Repelita.id

05 May 2026 18:20 WIB

Gatot Nurmantyo Buka Suara: Saya Ditendang Karena Tolak Naikkan Pangkat Titipan Jokowi
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Jenderal TNI Purnawirawan Gatot Nurmantyo akhirnya membuka cerita yang selama ini tersimpan rapat di balik pergantian dirinya sebagai Panglima TNI pada tahun 2017 yang lalu.

Ia mengaku dengan blak-blakan bahwa dirinya digantikan oleh Marsekal TNI Purnawirawan Hadi Tjahjanto karena berulang kali menolak permintaan Presiden ke-7 RI Joko Widodo untuk mempromosikan sejumlah perwira tinggi ke pangkat bintang tiga.

ADVERTISEMENT

Pernyataan mengejutkan tersebut disampaikan Gatot saat menjadi pembicara dalam acara Milad ke-5 Partai Ummat sekaligus Konsolidasi Menuju Kemenangan Pemilu 2029 yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube Partai Ummat pada Senin, 4 Mei 2026 atau Selasa dini hari.

“Saya buka saja sekarang biar Pak Jokowi marah,” ujar Gatot di hadapan para hadirin yang langsung disambut dengan gelak tawa dari seluruh peserta acara.

Dia kemudian menceritakan secara rinci bahwa Jokowi pernah meminta kepadanya agar seorang perwira tertentu dinaikkan pangkatnya menjadi letnan jenderal atau pangkat bintang tiga.

“Pak Panglima ini tolong dong dinaikkan bintang tiga,” kata Gatot menirukan gaya bicara Presiden Jokowi saat itu dengan nada yang santai namun penuh tekanan.

Gatot mengaku bahwa dirinya tidak langsung menyetujui permintaan tersebut karena harus mengikuti prosedur yang berlaku di lingkungan Tentara Nasional Indonesia.

“Oh baik, Pak. Saya cek dulu, Pak,” katanya menjawab permintaan Jokowi dengan sikap yang santun namun tetap profesional.

Setelah melakukan pengecekan rekam jejak secara mendalam terhadap figur perwira yang dimaksudkan, Gatot menemukan adanya sejumlah masalah yang cukup serius.

Ia pun kemudian memanggil perwira yang bersangkutan untuk berbicara secara langsung secara empat mata tanpa ada pihak lain yang hadir.

“Setelah berat badannya turun 6 kilo, saya kasih selembaran. Ini kesalahanmu, mau dilanjutkan atau tidak? Kalau kamu nggak mau, lapor lewat jalur mana bilang,” ungkap Gatot menggambarkan bagaimana tekanan dirasakan oleh perwira tersebut.

Keesokan harinya setelah pertemuan tersebut, Gatot dipanggil secara khusus oleh Presiden Jokowi untuk menghadap dan dimintai klarifikasi.

“Pak Panglima, dia masih suka di sana?” tanya Jokowi kepada Gatot yang baru saja tiba di ruang kerja presiden.

Dengan tenang dan tanpa rasa takut, Gatot pun menjawab dengan tegas bahwa perwira tersebut masih betah dan nyaman di posisinya yang sekarang.

“Oh iya, Pak. Ndak apa-apa, bagus di sana saja. Nggak jadi naik bintang tiga dia,” jawab Gatot dengan nada tenang namun penuh ketegasan.

Menurut pengakuan Gatot dalam pidatonya, kejadian serupa tersebut terjadi berulang kali dengan perwira-perwira yang berbeda namun pola yang sama.

“Lama-lama ketahuan juga saya kan. Ya sudah, ditendanglah saya, nggak nurut,” katanya sambil tertawa kecil menceritakan masa lalunya yang pahit.

Gatot kemudian menegaskan bahwa Tentara Nasional Indonesia adalah institusi yang sangat besar yang melatih, mengorganisasi, dan mempersenjatai para prajuritnya.

Oleh karena itu, seorang pemimpin TNI haruslah orang yang benar dan berintegritas karena jika tidak benar maka akan sangat berbahaya bagi bangsa dan negara.

“Bila tidak benar, maka akan sangat berbahaya,” tegas Gatot di hadapan para peserta acara yang memberikan tepuk tangan meriah.

Ia sendiri diberhentikan dari jabatannya sebagai Panglima TNI beberapa bulan sebelum memasuki masa pensiun resmi yang seharusnya ia jalani dengan tenang.

Setelah diberhentikan, Gatot kemudian ditempatkan sebagai Perwira Tinggi di Markas Besar TNI Angkatan Darat hingga akhirnya ia pensiun secara penuh.

Pengakuan jujur dari Gatot Nurmantyo ini langsung menjadi sorotan berbagai kalangan karena menyentuh sensitivitas hubungan antara pimpinan militer dan kekuasaan politik yang selama ini menjadi rahasia umum.

Ia menegaskan bahwa sikap tegasnya tersebut murni didasari untuk menjaga integritas institusi TNI, bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.

Hingga berita ini diturunkan pada Selasa, 5 Mei 2026, belum ada tanggapan resmi dari pihak Joko Widodo terkait pernyataan kontroversial yang dilontarkan oleh mantan Panglima TNI tersebut.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung