Repelita [Jakarta] - Gelombang intimidasi terhadap mereka yang vokal mengkritik Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, kian meluas dan meresahkan.
Setelah sebelumnya menimpa akademisi UGM, Nabiyla Risfa Izzati, kini giliran pegiat media sosial Ferry Koto yang melaporkan ancaman serupa.
ADVERTISEMENT
Melalui unggahan di akun X miliknya pada Sabtu (18/7/2026), Ferry mengungkapkan adanya teror dari nomor tidak dikenal pasca melayangkan kritik terhadap sang menteri.
https://twitter.com/ferrykoto/status/1813958934440845312
"Ada yang mau ancam-ancam saya, karena Twit tentang Dody Menteri PU," tulis Ferry Koto dalam unggahannya.
Pelaku diduga menggunakan modus operandi yang sama, yaitu mendesak penghapusan konten kritik dan melakukan doxing terhadap data pribadi korban.
Ferry menyebutkan bahwa pelaku mengetahui detail nama lengkap, profesi, hingga melacak keberadaan posisi terakhir ponsel miliknya.
Meski dirinya merupakan pendukung Presiden Prabowo pada Pilpres lalu, ia menegaskan bahwa intimidasi ini mencerminkan realitas kekuasaan saat ini.
Menurutnya, tindakan ini bukan kebijakan lembaga pemerintah secara sistematis, melainkan ulah oknum tertentu yang memiliki kepentingan sektoral.
"Maksud saya, dalam kasus semacam yang saya hadapi ini, ndak bisa langsung telunjuk diarahkan 'ini kerjaan pemerintah' sebagai lembaga atau menuduh ini pembungkaman oleh kekuasaan," ujar Ferry.
Ia mengibaratkan fenomena ini dengan adanya banyak 'bos' di luar kendali presiden yang memiliki sensitivitas berlebihan terhadap kritik.
"Saya yakin ini kerjaan salah satu 'bos' atau 'Big Bos' yang kupingnya tipis ndak terima dikritik, atau tidak terima anak buahnya atau bonekanya yang menjabat dikritik. Lantas memanfaatkan kewenangan atau relasinya untuk membuka data kependudukan dan nomor HP saya untuk mengancam," cetusnya.
"Presidennya memang satu, tapi 'bos-bos'nya banyak. Baik 'bos besar' maupun kecil," tambahnya.
Ferry pun mendorong masyarakat untuk tidak takut dan terus menyuarakan kritik secara data dan fakta tanpa perlu terintimidasi.
"Kritik saja terus, berisik saja terus. Sampai nanti, mana tahu, Presiden bertindak," tegasnya.
Terkait langkah hukum, ia menyatakan tengah mempertimbangkan tindakan lanjutan terhadap pelaku kebocoran data tersebut.
Ia juga secara terbuka meminta masyarakat untuk menuntut tanggung jawab Partai Gerindra selaku partai penguasa jika praktik intimidasi ini terus berulang.
"Kalau makin banyak warganet yang diancam karena mengkritik, kalian ramai-ramai pisuhi (protes keras) saja akun @Gerindra. Koq bisa di era pemerintahan mereka berkuasa malah kejadian seperti ini terjadi. Mention juga Fadli Zon dan kader-kader Gerindra lain yang dulu sebelum berkuasa sangat kritis. Amuki saja," pungkas Ferry. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok