Berita, Nasional

Feri Amsari Rocky Gerung Baru, Pengisi Ruang Kritik yang Mulai Longgar Ditinggalkan Rocky

Repelita.id

04 May 2026 22:44 WIB

Feri Amsari Rocky Gerung Baru, Pengisi Ruang Kritik yang Mulai Longgar Ditinggalkan Rocky
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Safriady, seorang pemerhati isu strategis sekaligus doktor ilmu komunikasi Universitas Padjadjaran, menulis analisis panjang tentang fenomena kemunculan figur intelektual publik di ruang digital Indonesia.

Dalam tulisannya yang tersebar pada 4 Mei 2026, Safriady menyoroti dinamika ketika nama pakar hukum tata negara Feri Amsari kian sering dibandingkan dengan filsuf Rocky Gerung.

ADVERTISEMENT

Menurut Safriady, perbandingan ini bukan sekadar sensasi media melainkan refleksi atas kebutuhan publik terhadap suara kritis yang tajam, argumentatif, dan berani menantang arus utama kekuasaan.

Dalam lanskap media modern yang didominasi kecepatan informasi dan polarisasi opini, Safriady menilai kehadiran intelektual publik memiliki fungsi strategis sebagai penafsir realitas sekaligus pengganggu terhadap narasi tunggal kekuasaan.

Safriady menjelaskan bahwa Feri Amsari tampil sebagai figur yang mengalami transformasi peran dari akademisi hukum tata negara menjadi komentator publik dengan daya resonansi yang sangat luas.

Secara akademik, Safriady mencatat bahwa Feri Amsari dikenal sebagai pakar hukum tata negara yang konsisten mengkritisi praktik ketatanegaraan Indonesia selama ini.

Posisi ini memberinya legitimasi epistemik berupa basis keilmuan yang kuat untuk membedah kebijakan, undang-undang, dan perilaku kekuasaan yang bermasalah.

Namun yang membuat Feri Amsari menonjol di panggung media menurut Safriady adalah kemampuannya mentransformasikan bahasa akademik menjadi narasi publik yang mudah dicerna tanpa kehilangan ketajaman analisis.

Di titik inilah Safriady melihat paralel antara Feri Amsari dan Rocky Gerung menjadi sangat relevan untuk dibahas secara mendalam.

Safriady mengamati bahwa Rocky Gerung dikenal dengan gaya retorika yang provokatif, metaforis, dan sering kali menggugah emosi publik secara mendalam.

Rocky memainkan peran sebagai agitator intelektual yang memancing diskursus bahkan kontroversi di mana pun ia berada.

Sementara itu Safriady menilai Feri Amsari cenderung mengambil posisi yang lebih sistematis dan berbasis data tetapi tetap memiliki daya kritik yang tajam.

Jika Rocky mengandalkan kekuatan retorika filosofis maka Feri menurut Safriady mengedepankan argumen legal-konstitusional yang berbasis pada fakta hukum.

Namun dalam perkembangan mutakhir, Safriady mengamati muncul persepsi publik yang menarik di mana Rocky Gerung yang sebelumnya dikenal sangat konsisten kini dinilai intensitas kritiknya mengendur.

Persepsi ini menurut Safriady tidak muncul tanpa konteks karena terlihat dari sejumlah isu strategis gaya kritik Rocky tampak lebih selektif daripada sebelumnya.

Ia tidak seagresif fase awal ketika hampir selalu menjadi oposisi intelektual yang konstan terhadap hampir setiap kebijakan negara.

Safriady menjelaskan bahwa perubahan intensitas ini dapat dibaca dalam beberapa kerangka pemikiran yang berbeda.

Pertama, dinamika politik yang berubah pasca kontestasi elektoral sering kali memengaruhi konfigurasi sikap para intelektual publik.

Kedua, ada kemungkinan terjadinya reposisi strategi komunikasi dari kritik frontal menjadi kritik yang lebih sporadis dan kontekstual.

Ketiga, logika media yang terus bergerak di mana eksposur, panggung, dan momentum turut membentuk persepsi publik terhadap konsistensi seseorang.

Di tengah situasi tersebut, Safriady menilai kehadiran Feri Amsari justru mengisi ruang yang oleh sebagian publik dianggap mulai longgar ditinggalkan Rocky Gerung.

Feri tampil dengan konsistensi kritik yang relatif stabil terhadap isu-isu fundamental seperti pelemahan demokrasi dan politisasi hukum.

Ia juga konsisten mengkritisi erosi prinsip checks and balances dalam sistem ketatanegaraan Indonesia menurut pengamatan Safriady.

Feri tidak sekadar mengomentari peristiwa tetapi juga membangun kerangka berpikir publik tentang bagaimana kekuasaan seharusnya dijalankan.

Pendekatan ini menurut Safriady memperkuat posisinya sebagai intelektual publik yang tidak hanya reaktif tetapi juga normatif dan visioner.

Safriady menjelaskan bahwa transformasi Feri Amsari menjadi figur yang kerap disebut sebagai Rocky Gerung baru tidak terjadi dalam ruang hampa.

Ada konteks struktural yang mendorongnya seperti meningkatnya ketidakpercayaan publik terhadap institusi politik formal.

Partai, parlemen, bahkan lembaga penegak hukum mulai ditinggalkan kepercayaan publik sehingga menciptakan ruang bagi aktor non-negara.

Perkembangan media digital memungkinkan individu dengan kapasitas analitis tinggi untuk langsung berinteraksi dengan publik tanpa filter institusi konvensional.

Namun Safriady mengingatkan bahwa penyematan label Rocky Gerung baru juga perlu dibaca secara kritis oleh masyarakat.

Labelisasi semacam ini berpotensi menyederhanakan kompleksitas peran dan gaya masing-masing figur intelektual menurut Safriady.

Feri Amsari bukan imitasi Rocky Gerung melainkan representasi dari tipe intelektual publik yang berbeda secara fundamental.

Ia lebih dekat dengan tradisi akademik yang menekankan argumentasi berbasis hukum dan konstitusi dibanding pendekatan filosofis yang lebih bebas.

Selain itu Safriady mencatat bahwa ruang publik Indonesia saat ini mengalami hiperkompetisi narasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Setiap pernyataan publik dapat dengan cepat dipolitisasi, dipelintir, atau bahkan menjadi sasaran disinformasi yang masif.

Dalam situasi ini figur seperti Feri Amsari menghadapi tantangan ganda yaitu menjaga integritas akademik sekaligus mempertahankan relevansi di tengah logika media instan.

Di sisi lain Safriady melihat kemunculan Feri Amsari sebagai figur sentral dalam diskursus publik juga menunjukkan adanya pergeseran preferensi audiens.

Publik tidak lagi hanya mencari sensasi atau kontroversi tetapi juga argumentasi yang memiliki dasar keilmuan yang kuat.

Ini menjadi indikasi bahwa kualitas diskursus publik meskipun masih menghadapi banyak tantangan memiliki potensi untuk berkembang ke arah yang lebih substantif.

Pada perspektif yang lebih luas Safriady menilai fenomena ini mencerminkan kebutuhan demokrasi terhadap penjaga akal sehat atau guardians of reason.

Dalam sistem yang sehat kekuasaan harus selalu diimbangi oleh kritik yang rasional dan berbasis pengetahuan yang memadai.

Feri Amsari dalam kapasitasnya saat ini memainkan peran sebagai pengingat bahwa hukum dan konstitusi adalah fondasi utama negara.

Ia menunjukkan bahwa hukum bukan sekadar alat legitimasi kekuasaan tetapi instrumen keadilan yang harus ditegakkan menurut Safriady.

Akhirnya Safriady menyimpulkan bahwa pertanyaan apakah Feri Amsari benar-benar menjelma menjadi Rocky Gerung baru tidak sesederhana jawaban ya atau tidak.

Yang lebih tepat adalah melihatnya sebagai evolusi baru dalam ekosistem intelektual publik Indonesia yang terus berkembang.

Ia mengisi ruang kritik dan refleksi yang sama tetapi dengan pendekatan, metodologi, dan gaya yang sangat berbeda.

Sedangkan dalam konteks Rocky Gerung yang dinilai sebagian publik mulai mengalami penyesuaian intensitas, kehadiran Feri Amsari justru menegaskan kesinambungan kritik tetap terjaga.

Yang jelas Safriady menegaskan bahwa kehadiran figur seperti Feri Amsari membuktikan bahwa di tengah dinamika politik yang kompleks suara kritis berbasis pengetahuan tetap memiliki tempat.

Bahkan suara kritis seperti itu menjadi kebutuhan mendesak bagi demokrasi yang sehat menurut pandangan Safriady.

Dan selama ruang publik masih memberi ruang bagi rasionalitas, figur-figur semacam ini akan terus muncul, berkembang, dan yang paling penting tetap dibutuhkan oleh masyarakat.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung