Berita, Nasional

Feri Amsari Puji Aksi Mahasiswa Tolak Pejabat di UGM: Tampil Keren dan Keras di Waktu yang Tepat

Repelita.id

19 June 2026 22:25 WIB

Feri Amsari Puji Aksi Mahasiswa Tolak Pejabat di UGM: Tampil Keren dan Keras di Waktu yang Tepat
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Pakar Hukum Tata Negara, Feri Amsari, memberikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap gelombang pergerakan mahasiswa yang kembali menyuarakan kritik tajam kepada pemerintahan saat ini.

Melalui unggahan di akun media sosial X pada Jumat, 19 Juni 2026 di tautan [suspicious link removed], ia secara khusus menyoroti keberanian kelompok akademisi dengan menuliskan, “Mahasiswa UGM dan UI kembali jadi contoh terdepan sebagai mahasiswa,” kata Feri.

ADVERTISEMENT

Pengamat tata negara ini menilai bahwa langkah para kaum intelektual muda tersebut menunjukkan sikap tegas yang dilontarkan pada momentum yang sangat tepat serta memukau publik.

Ia menyampaikan pujian atas keberanian para demonstran dalam menyusun narasi perlawanan melalui pernyataan, “Tampil keren, bertutur rapi, dan keras diwaktu yang benar,” ucapnya.

Sang pakar hukum juga menyinggung insiden penolakan sejumlah pejabat negara di kampus Universitas Gadjah Mada dengan mengaitkannya pada prinsip ketegasan milik pahlawan kemerdekaan.

Ia membandingkan penolakan mahasiswa terhadap para penguasa tersebut dengan prinsip kuat perjuangan masa lalu melalui kutipan, “Anda tidak berkompromi dengan maling saat menyantroni rumah anda kata Tan Malaka,” imbuhnya.

Feri menaruh harapan besar agar nyala keberanian yang saat ini ditunjukkan oleh para mahasiswa dapat menjalar dan membakar semangat perlawanan di berbagai wilayah nusantara lainnya.

Ia menutup seruannya tersebut dengan sebuah doa agar pergerakan aktivis kampus ini semakin masif melalui kalimat, “Menyebarlah kekuatan mahasiswa ini ke segala penjuru,” pungkasnya.

Apresiasi dari sang pakar hukum ini berkaitan erat dengan peristiwa penolakan yang terjadi dalam sebuah forum diskusi bertajuk Kopdar Bareng Mas Dar yang diselenggarakan oleh lembaga Total Politik.

Acara yang berlangsung di lingkungan kampus tersebut memicu kontroversi lantaran menghadirkan sejumlah tokoh pemerintahan seperti Budiman Sudjatmiko, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, serta Wakil Menteri Pertanian Sudaryono.

Situasi forum mulai memanas dan tidak terkendali ketika para pejabat publik tersebut menduduki kursi panggung utama di hadapan para mahasiswa yang hadir sebagai peserta diskusi.

Sekelompok mahasiswa tiba-tiba merangsek masuk sambil menyalakan suara sirine peringatan dari pelantang suara dan secara bersamaan membentangkan berbagai spanduk bernada kecaman keras.

Spanduk yang dibawa oleh kelompok pengunjuk rasa tersebut memuat tulisan tajam yang memprotes para tokoh dengan narasi berbunyi "UGM Menolak Pengkhianat Reformasi" dan "UGM Menolak Penjilat Rezim".

Ketegangan di dalam arena acara memuncak hingga berujung pada aksi pelemparan botol air mineral ke arah panggung utama tempat para pejabat negara itu duduk mendengarkan aspirasi.

Kelompok massa aksi yang didominasi oleh mahasiswa tersebut juga terus menyuarakan amarah mereka dengan mencari keberadaan salah satu pembicara melalui seruan, “Mana Budiman,” teriak para mahasiswa.

Para demonstran bersikeras mendesak para pejabat pemerintahan tersebut untuk segera angkat kaki dari area ruang diskusi akademik karena keberadaan mereka dinilai sangat tidak pantas.

Sikap tidak kenal kompromi dari kalangan mahasiswa tersebut semakin ditegaskan melalui desakan pembubaran acara dengan melontarkan ancaman, “Katanya mau diskusi. Kalau Budiman dan Sudaryono tidak mau keluar, kita nggak akan pergi," kata mahasiswa lainnya.

Desakan masif yang tak kunjung surut tersebut akhirnya memaksa para pejabat negara untuk mengalah dan segera meninggalkan lokasi acara guna menghindari eskalasi bentrokan yang lebih parah. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung