Repelita Jakarta - Fungsionaris Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Ferdinand Hutahaean melontarkan sorotan tajam terkait respons negatif lantai bursa terhadap rangkaian pemaparan yang disampaikan oleh pimpinan otoritas fiskal nasional.
Mantan aktivis sosial itu mengaitkan kemerosotan kinerja pasar modal serta fluktuasi mata uang domestik sebagai indikasi nyata dari terkikisnya tingkat kepercayaan para pelaku pasar terhadap ketahanan ekonomi dalam negeri.
ADVERTISEMENT
Dirinya mengklaim bahwa para pemilik modal di sektor finansial tidak sepenuhnya memercayai klaim-klaim sepihak yang dirilis oleh jajaran birokrat keuangan mengenai stabilitas moneter saat ini.
“Pasar tampaknya merespons statement-statement Purbaya, Menteri Keuangan kita, secara negatif,” ujar Ferdinand, dikutip fajar.co.id, Senin (18/5/2026).
Politikus vokal ini lantas membeberkan data pergerakan grafik transaksi bursa saham gabungan yang mengalami koreksi yang cukup masif pada sesi transaksi pertama.
“Bursa kita pagi hari ini kembali turun melemah lebih dari 2 persen dari pembukaan awal di level 6.600-an poin, lalu jatuh dalam waktu singkat ke level 6.500-an poin, turun sekitar 150 poin,” tukasnya merinci kejatuhan indeks finansial tersebut.
Menurut pandangannya, kemerosotan nilai transaksi di lantai bursa merupakan sebuah indikator kuat bahwa para investor mulai meragukan keabsahan dari janji-janji manis yang diumbar oleh pihak kementerian keuangan.
Lebih mendalam lagi, ia menilai gejolak negatif di sektor pasar sekunder tersebut berakar dari pudarnya rasa aman para spekulan terhadap kondisi riil kesehatan ekonomi makro tanah air.
“Ini adalah fakta yang kita lihat bahwa memang pasar tampaknya meraukan semua statement-statement Purbaya,” terangnya memberikan analisis mengenai situasi makroekonomi saat ini.
Ia menggarisbawahi bahwa ketidakpastian tersebut lambat laun mulai merembet pada sentimen kolektif publik yang mempertanyakan kekuatan sejati dari fondasi keuangan negara secara menyeluruh.
“Pasar meragukan semua pernyataan-pernyataan Purbaya soal fundamental ekonomi kita,” lanjutnya menambahkan catatan kritis terkait performa menteri keuangan tersebut.
Di samping itu, figur publik ini juga mengekspresikan rasa waswas yang mendalam atas perkembangan kondisi moneter riil terutama karena nilai tukar rupiah terpantau terus mengalami depresiasi berkepanjangan.
“Nah bagaimana dampaknya ke depan? Saya terus terang secara pribadi sangat khawatir dengan kondisi ini, meskipun pemerintah terus menyatakan jangan khawatir,” ucapnya menyuarakan ketidakpastian yang dirasakannya.
Bagi dirinya, munculnya rasa cemas di kalangan masyarakat bawah merupakan sebuah konsekuensi yang logis di tengah hantaman gelombang ketidakpastian iklim investasi global saat ini.
“Tapi kegelisahan tentu wajar muncul, mengingat nilai tukar rupiah juga belum bisa direm oleh pemerintah dan terus merosot,” kuncinya menutup ulasan kritis mengenai kinerja keuangan domestik.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok