Berita, Nasional

Ferdinand Hutahaean Minta Publik Berhenti Mengolokolok Presiden Prabowo Terkait Kesalahan Data Pidato Kenegaraan

Repelita.id

16 August 2026 19:32 WIB

Ferdinand Hutahaean Minta Publik Berhenti Mengolokolok Presiden Prabowo Terkait Kesalahan Data Pidato Kenegaraan
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Polemik terkait pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia terus memantik berbagai reaksi.

Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Ferdinand Hutahaean, mengimbau khalayak agar tidak terjebak dalam perdebatan atas insiden salah sebut data.

ADVERTISEMENT

Ia menyayangkan gelombang ejekan di ruang publik yang menjadikan kekeliruan penyampaian informasi tersebut sebagai bahan candaan massal.

“Aku rasa memang kita ini sudah banyak yang makin sakit, makin tidak jelas mentalnya," ujar Ferdinand pada hari Minggu, 16 Agustus 2026.

Menurutnya, insiden tersebut murni merupakan kekeliruan teknis membaca materi pidato yang tidak perlu dibesar-besarkan secara berlebihan.

“Presiden hanya salah baca saja soal data, upah tukang, kupas bawang, ributnya, minta ampun," tukasnya.

Dirinya membandingkan sikap publik tanah air dengan masyarakat di negara maju yang lebih memaklumi apabila pemimpinnya keliru mengutip data.

“Bahkan kalau di luar sana negara-negara yang maju, kalau pemimpinnya salah kutip, itu mereka mengerti, oh itu salah kutip," timpalnya.

Ferdinand menilai kekeliruan membaca tidak sepatutnya dijadikan alasan untuk mengalihkan fokus dari substansi persoalan yang lebih besar.

Ia bahkan menyinggung bahwa kesalahan membaca dapat dialami oleh siapa saja dalam berbagai kesempatan yang berbeda.

“Jangankan baca data pidato, baca ayat suci saja sering salah," imbuhnya.

Masyarakat lantas diajak untuk menghentikan polemik remeh serta mengarahkan energi pada isu-isu krusial penentu masa depan bangsa.

“Lah kok kita ini kok senangnya aduh mengolok-olok gitu loh, kapan kita ini menjadi manusia-manusia yang bisa gitu loh, fokus kepada substansi persoalan bangsa," terangnya.

Setiap warga negara diminta agar senantiasa menjaga kualitas diskursus publik agar tetap produktif dan bermartabat.

“Bukan hal-hal remeh-temeh yang tidak berguna, hey, jangan kelaskan dirimu jadi yang tidak berguna, come on," tandasnya.

Perdebatan konstruktif dinilai jauh lebih mendesak guna mengawal kebijakan strategis pemerintah ketimbang meributkan hal-hal teknis.

“Mari diskusi tentang hal-hal yang substantif terkait bangsa," kuncinya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto sempat memperkenalkan sejumlah warga prasejahtera dalam pidatonya, termasuk Susanah asal Kabupaten Bogor.

Kepala negara menyebut sosok tersebut bekerja sebagai buruh harian dengan narasi penerimaan upah yang kemudian memicu kehebohan di ruang digital.

"Hari ini hadir bersama kita Ibu Susana dari Kabupaten Bogor," ujar Prabowo diiringi tepuk tangan para pejabat negara dan tamu undangan.

"Ia bekerja sebagai buruh harian, mengupas bawang dengan upah 700 ribu rupiah per kilogram," tambahnya.

Bantuan sosial pemerintah melalui Program Keluarga Harapan disebut turut diberikan untuk menjaga keberlangsungan pendidikan anak-anaknya.

"Program Keluarga Harapan dan Program Sembako membantu menjaga pendidikan anak-anaknya," jelasnya.

Selain itu, Presiden turut menceritakan kisah hidup Margaret Lita Roy dari Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang gigih berjuang di tengah keterbatasan.

"Hadir pula Ibu Margaret Lita Roy dari Kupang, Nusa Tenggara Timur," ucap Prabowo.

"Sejak kecil ia hidup dalam kesulitan dan tidak pernah menyenyam pendidikan," sambung dia.

Kehadiran negara ditegaskan hadir bukan untuk mengambil alih usaha rakyat melainkan memastikan kerja keras mereka membuahkan hasil nyata.

"Negara hadir bukan untuk menggantikan kerja keras rakyat negara hadir agar kerja keras rakyat tidak sia-sia," kuncinya. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung