Repelita Timur Tengah - Hanya dalam hitungan jam setelah gencatan senjata dua minggu diumumkan antara Amerika Serikat dan Iran, ketegangan di kawasan Timur Tengah justru meledak ke tingkat yang lebih tinggi dengan Lebanon selatan berubah menjadi medan pertempuran sengit bagi pasukan Zionis.
Sedikitnya enam tentara Israel tewas dalam serangkaian bentrokan di Lebanon selatan sejak Senin, 6 April 2026, di mana para pejuang Hizbullah memberikan perlawanan mati-matian di garis depan dan memaksa militer Zionis membayar mahal setiap langkah mereka.
ADVERTISEMENT
Di level diplomatik, gencatan senjata yang diharapkan menjadi jeda perdamaian justru terancam runtuh seketika setelah Iran menuduh Amerika Serikat dan Israel melanggar kesepakatan dengan terus menggempur Lebanon.
Informasi yang dihimpun dari media Israel Kan News mengonfirmasi bahwa korban jiwa terjadi dalam tiga insiden terpisah, dengan pukulan paling telak dialami pasukan elite Brigade Golani di desa Al-Taybeh dekat perbatasan ketika operasi penyisiran berubah menjadi bencana.
Pasukan Batalyon 13 tiba-tiba bertemu langsung dengan sel pejuang Hizbullah dalam jarak dekat, memicu pertempuran jarak dekat yang brutal yang menewaskan Sersan Staf Tuval Yosef Lipshitz, seorang prajurit Golani asal Beit She’an, sementara lima tentara lainnya terluka dengan satu di antaranya kritis.
Sebelum insiden itu, empat tentara dari unit pengintai Brigade Nahal juga gugur dalam pertempuran terpisah, di mana IDF mengidentifikasi mereka sebagai Kapten Noam Madmoni (22), Sersan Staf Ben Cohen (21), Sersan Staf Maksim Antis (21), dan Sersan Staf Gilad Harel (21) dengan enam tentara lainnya terluka.
Seorang tentara dari unit elite Maglan tewas akibat tembakan ramah, sementara seorang perwira juga menderita luka parah dalam insiden yang sama, sehingga total sejak kampanye militer dimulai telah menewaskan 12 tentara Israel di Lebanon.
Pada Selasa, 7 April 2026, Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran dalam kesepakatan yang dimediasi Pakistan yang diharapkan menjadi pintu menuju perdamaian permanen, namun kebahagiaan itu langsung sirna.
Hanya beberapa jam kemudian, Israel melancarkan serangan terbesarnya ke Lebanon dengan menghujani lebih dari 100 target Hizbullah di Beirut, Lembah Beqaa, dan Lebanon selatan dalam waktu sepuluh menit, menyebabkan Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan setidaknya 254 orang tewas pada hari itu.
Israel dan AS menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran tidak mencakup Lebanon, sebagaimana diungkapkan Wakil Presiden AS JD Vance yang mengatakan bahwa Iran mengira gencatan senjata itu termasuk Lebanon padahal tidak sama sekali.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan lebih tegas dengan pernyataan bahwa pihaknya siap kembali berperang kapan saja dan jari mereka sudah di pelatuk, sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bersikeras bahwa menghentikan perang di Lebanon adalah bagian dari kesepakatan.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai pembicaraan damai ke depan menjadi tidak masuk akal karena AS dan Israel telah melanggar tiga dari sepuluh syarat Teheran, yakni menyerang Hizbullah, pelanggaran wilayah udara Iran oleh drone, dan penolakan atas hak pengayaan uranium.
Merasa dikhianati, Iran mengambil langkah dramatis dengan menutup kembali Selat Hormuz yang merupakan jalur vital bagi 20 persen perdagangan minyak global, sehingga harga minyak dunia langsung bergejolak dan Gedung Putih langsung mengecam tindakan itu sebagai hal yang tidak bisa diterima.
Korps Garda Revolusi Islam mengeluarkan ancaman perang terbuka dengan memperingatkan Israel bahwa akan ada respons yang menyesal jika serangan ke Lebanon tidak dihentikan segera, sementara laporan dari Anadolu Agency menyebutkan bahwa Iran sedang memfinalisasi rencana untuk melakukan operasi penangkalan terhadap posisi militer Israel.
Eskalasi ini juga menyentuh Indonesia di mana tiga prajurit TNI yang bertugas sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB gugur dalam dua insiden terpisah di Lebanon selatan, dengan investigasi PBB menyimpulkan bahwa Praka Farizal Rhomadhon tewas akibat proyektil 120 mm yang ditembakkan dari tank Merkava milik Israel.
Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ikhwan tewas akibat ledakan IED yang diduga dipasang oleh aktor tak dikenal di medan perang, sehingga Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri terus berkoordinasi dengan PBB untuk memastikan keselamatan personel yang tersisa serta menuntut kejelasan atas gugurnya para pahlawan bangsa.*
Editor: 91224 R-ID Elok
đŸ’¢ At least 6 Israeli soldiers killed in southern Lebanon since Monday, Kan News reports
— Drop Site (@DropSiteNews) April 8, 2026
They include a Golani fighter killed in a close-range clash in Al-Taybeh near the border (pictured), where five others were wounded, one seriously. Four reconnaissance soldiers were killed… pic.twitter.com/MqljoUSwwp