Berita, Nasional

Eks Anggota Dema UGM Tiyo Respons Keras Ultimatum Prabowo Soal Penipuan MBG

Repelita.id

07 June 2026 14:21 WIB

Eks Anggota Dema UGM Tiyo Respons Keras Ultimatum Prabowo Soal Penipuan MBG
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Sorotan tajam datang dari mantan Anggota Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada mengenai pernyataan terbaru Presiden Prabowo Subianto yang memberikan ultimatum keras kepada para mitra program Makan Bergizi Gratis atau MBG yang melakukan kecurangan.

Tiyo menanggapi langkah tersebut dengan rasa heran dan mempertanyakan peran kepala negara saat ini apakah bertindak sebagai seorang presiden atau justru menjadi seorang motivator.

ADVERTISEMENT

Penilaian tersebut muncul karena dalam berbagai kesempatan berpidato, presiden dinilai jauh lebih sering menyampaikan seruan yang berisi nasihat serta wejangan moral dibandingkan dengan meluncurkan seruan kebijakan yang konkret.

Tanggapan tersebut juga menyoroti situasi ruang publik beberapa hari belakangan sebelum terjadinya penangkapan terhadap Pak Dadan, di mana masyarakat sebenarnya sedang gencar memperbincangkan ancaman krisis ekonomi yang nyata.

Berbagai persoalan krusial seperti lonjakan nilai tukar dolar yang kian melambung tinggi hingga kemerosotan Indeks Harga Saham Ganbungan atau IHSG yang turun secara drastis sempat menjadi pusat perhatian utama warga.

Namun, seluruh rangkaian pembahasan mengenai gejolak ekonomi domestik tersebut mendadak lenyap begitu saja dari perbincangan publik tepat setelah momentum penangkapan figur tersebut dilakukan.

Fenomena penipuan dan kecurangan ini dinilai bisa menjadi sebuah indikasi kuat mengenai adanya upaya pemindahan medan konflik yang sengaja dirancang ketika pergantian posisi pemain terjadi di lapangan.

Pada situasi sebelumnya, masyarakat luas cenderung melayangkan kritik dan serangan secara langsung kepada presiden sebagai sosok yang terlihat sangat membanggakan program MBG tersebut.

Bahkan, sempat muncul sebutan di tengah publik yang mengumpamakan beliau layaknya seorang CEO MBG yang memandang negara Negara Kesatuan Republik Indonesia ini seolah-olah hanya sebuah perusahaan pengelola program gizi.

Tindakan penangkapan ini diduga kuat memiliki tujuan untuk mengkambinghitamkan Pak Dadan agar pola kepemimpinan yang biasa ditunjukkan oleh Pak Prabowo dapat kembali terwujud di mata masyarakat.

Mantan fungsionaris mahasiswa tersebut menilai bahwa presiden memiliki kecenderungan mentalitas sebagai seorang Mesias yang merasa kurang ideal jika tidak memosisikan diri sebagai sosok juru selamat.

Oleh karena itu, publik dianggap sangat patut untuk menaruh rasa curiga bahwa peristiwa hukum yang bergulir saat ini berpotensi hanya sebuah skenario penumbalan.

Langkah penumbalan ini diduga sengaja dilakukan agar arah serangan opini publik yang pada awalnya menyasar langsung kepada figur Presiden kini berhasil dialihkan sepenuhnya untuk menyerang Pak Dadan.

Di sisi lain, pandangan berbeda disampaikan oleh Mas Rio yang merasa bingung dengan tuduhan pengkambinghitaman tersebut.

Menurutnya, langkah tegas berupa pencopotan jabatan yang diambil oleh seorang kepala negara saat mengetahui adanya penyimpangan dalam sebuah program strategis merupakan bentuk nyata dari penegakan aturan tanpa memandang bulu.

Meskipun demikian, evaluasi menyeluruh serta perbaikan tata kelola terhadap perjalanan program MBG ini tetap dinilai sebagai sebuah keharusan yang mutlak demi mencegah terulangnya kasus keracunan makanan di lapangan.

Mas Agus menambahkan sebuah saran bahwa apabila pemerintah ingin menunjukkan ketegasan yang sejati, maka program ini sebaiknya dihentikan sementara waktu terlebih dahulu.

Penghentian sementara tersebut sangat diperlukan untuk memperbaiki sistem tata kelola secara total, menyusun regulasi yang kuat dan ajek, serta mengeliminasi potensi munculnya konflik kepentingan di dalam Badan Gizi Nasional.

Sorotan lain juga datang dari Bang Rey yang menangkap pesan ultimatum presiden kepada mitra curang agar segera bertobat sebagai hal yang belum terbukti dalam praktik nyata di lapangan.

Ia menilai pidato kepresidenan selalu terdengar hebat namun sering kali realisasinya di lapangan masih dinilai sebatas retorika atau omon-omon semata.

Selain itu, jaminan kebebasan berpendapat juga dipertanyakan seiring adanya pemeriksaan kepolisian terhadap tiga orang akibat dugaan penghasutan.

Sentilan penutup pun dilayangkan yang menyatakan bahwa pihak yang ditunggu oleh masyarakat adalah kebijakan nyata dari seorang presiden, sebab urusan menunggu orang bertobat adalah tugas seorang ustaz.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung