Berita, Timur Tengah

Dulu bunuh ayah, ibu, istri hingga anak, Donald Trump Ingin Temui Mojtaba Khamenei di Tengah Pelanggaran Gencatan Senjata AS-Iran

Repelita.id

04 June 2026 13:46 WIB

Dulu bunuh ayah, ibu, istri hingga anak, Donald Trump Ingin Temui Mojtaba Khamenei di Tengah Pelanggaran Gencatan Senjata AS-Iran
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Hasrat untuk mengadakan pembicaraan bilateral dengan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, diutarakan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Keinginan tersebut mencuat ke publik di tengah situasi panas kedua belah pihak yang saling melempar tuduhan mengenai pelanggaran kesepakatan damai sementara.

Pernyataan tersebut terlontar dari mulut orang nomor satu di Washington itu dalam sebuah wawancara eksklusif. "Saya ingin bertemu dengannya, dan kami mungkin akan bertemu suatu saat nanti, tergantung bagaimana semuanya berjalan," kata Trump kepada dalam siniar "Pod Force One" New York Post, Rabu (3/6/2026).

ADVERTISEMENT

Pada kesempatan yang sama, Trump membeberkan informasi yang diterimanya mengenai penurunan kondisi kesehatan sang pemuka agama Teheran tersebut. Pihak intelijen meyakini Mojtaba ikut terluka dalam operasi militer AS yang menewaskan Ali Khamenei, ayah kandungnya, pada penghujung Februari lalu.

Trump memberikan komentar bernada menyindir terkait kabar cedera fisik yang dialami oleh tokoh penting Iran tersebut. "Saya tidak mendengar kabar bahwa kondisinya baik. Jika Anda percaya cerita-cerita itu, dia kehilangan banyak bagian tubuh," kata Trump.

Kondisi terkini Mojtaba justru dinilai bertolak belakang oleh Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam rapat bersama parlemen. “Saya pikir ada indikasi di luar sana bahwa dia semakin terlibat pada tingkat tertentu,” kata Rubio kepada Komite Hubungan Luar Negeri Senat pada Selasa (2/6/2026).

Di pihak lain, ketegangan makin meruncing setelah Teheran melayangkan protes keras atas tindakan militer AS di kawasan Selat Hormuz dan Pulau Qeshm. Otoritas Iran menganggap operasi bersenjata yang menyasar aset strategis mereka itu sebagai bentuk pelanggaran hukum internasional yang nyata.

Pemerintah Iran menegaskan posisi mereka yang tidak akan tinggal diam dan siap mengambil langkah balasan defensif demi melindungi kedaulatan negara. Mereka juga mengancam bakal menyerang pangkalan militer mana pun yang memfasilitasi jalur udara bagi armada perang milik Washington.

Aksi saling balas pun pecah ketika pasukan elite Korps Garda Revolusi Iran menghantam fasilitas penerbangan di Kuwait baru-baru ini. Operasi tersebut diklaim murni sebagai tindakan balasan atas hancurnya kapal pengangkut minyak milik mereka sebelumnya.

Rentetan insiden berdarah di kawasan Timur Tengah ini menjadi ujian yang sangat krusial bagi keberlangsungan piagam gencatan senjata. Kesepakatan damai yang baru berusia seumur jagung sejak ditandatangani pada April lalu kini terancam runtuh sepenuhnya. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok



TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung