Repelita Tel Aviv - Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengonfirmasi dua tentaranya tewas dalam insiden terpisah di Lebanon selatan, menambah daftar korban yang terus bergerak sejak konflik terbaru meletus beberapa pekan lalu.
Sersan Walikota (Cadangan) Barak Kalfon menjadi korban pertama dalam rangkaian ini, dan sehari berselang Sersan Satu (Cadangan) Lidor Porat yang berusia 31 tahun menyusul meninggal dunia.
ADVERTISEMENT
Dalam dua kejadian itu, dua belas tentara lainnya dilaporkan mengalami luka-luka, meskipun detail kejadian tidak diungkapkan secara rinci oleh pihak militer Israel.
Angka kematian di pihak Israel kini mencapai sedikitnya lima belas personel sejak konflik kembali memanas pada awal Maret 2026.
Eskalasi dipicu oleh serangan kelompok militan Hizbullah yang berbasis di Lebanon sebagai bentuk dukungan terhadap Iran, dengan balasan Israel datang dalam bentuk bombardir intens ke wilayah Lebanon selatan.
Di sisi lain, dampak konflik terasa jauh lebih luas karena Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat lebih dari dua ribu orang tewas dan sekitar tujuh ribu lainnya luka-luka dalam enam pekan terakhir.
Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan gambaran konflik yang terus meluas di luar garis pertempuran formal antara kedua belah pihak.
Ironisnya, kabar kematian dua tentara ini muncul hanya beberapa hari setelah gencatan senjata sepuluh hari mulai berlaku, sebuah jeda yang seharusnya memberi ruang bagi de-eskalasi.
Namun di lapangan, gencatan senjata justru masih menyisakan percikan kekerasan yang merenggut nyawa personel militer Israel di Lebanon selatan.
Dalam waktu yang hampir bersamaan, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan bahwa seorang tentara penjaga perdamaian PBB asal Prancis juga tewas di Lebanon.
Fakta ini menegaskan bahwa konflik tersebut tidak lagi terbatas pada dua pihak, tetapi telah menyeret aktor internasional ke dalam lingkaran risiko yang semakin berbahaya.
Di garis batas Lebanon selatan, perang kini bergerak dalam ritme yang tak menentu, terkadang mereda lewat kesepakatan lalu kembali menyala lewat kejadian di lapangan.
Di antara itu semua, korban terus bertambah satu per satu, seolah menjadi penanda bahwa gencatan senjata belum benar-benar berarti damai bagi masyarakat di kawasan tersebut.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok