Berita, Nasional

Dua Anggota DPD Bali Beda Sikap Soal Kasus Dugaan Rasisme

Repelita.id

15 August 2026 23:10 WIB

Dua Anggota DPD Bali Beda Sikap Soal Kasus Dugaan Rasisme
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Dua anggota DPD RI asal Bali, Arya Wedakarna dan Ni Luh Djelantik, memiliki pandangan berbeda terkait kasus dugaan rasisme yang menimpa Hilda, perempuan asal Lombok.

Mediasi antara penjahit dan korban sudah berlangsung, namun polemik belum juga mereda.

ADVERTISEMENT

Arya Wedakarna dalam video yang diunggah di akun Instagramnya menyampaikan kekhawatiran terhadap nasib pasangan penjahit tersebut.

"Bapak ibu ini suami istri sama-sama penjahit lho, punya anak masih sekolah. Kalau kamu emosi, warungnya ditutup misalkan, mau kamu kasih makan? Mau tanggung jawab gak? Ayo dong ngomong depan kami," ujar Arya.

Pernyataan itu kemudian menuai kritik publik karena dinilai sebagai tekanan atau intimidasi terhadap Hilda.

Arya juga menyebut pihak keluarga penjahit berhak melaporkan Hilda terkait penyebaran video.

"Kalau pihak keluarga mau melaporkan UU ITE boleh, walaupun hari ini udah damai, tapi pihak keluarga berhak ngelaporin kamu, karena kamu nyebarin video orang," tutur Arya.

Pernyataan tersebut memicu perdebatan di media sosial dan mempertanyakan posisi Arya dalam mediasi.

Di sisi lain, Arya membantah tudingan melakukan intimidasi maupun bersikap berat sebelah.

Sementara itu, Ni Luh Djelantik justru menyoroti dugaan rasisme yang dialami Hilda.

Melalui akun Instagram @niluhdjelantik pada Jumat, 14 Agustus 2026, ia mempertanyakan mengapa persoalan berawal dari tindakan penjahit justru berlarut-larut terhadap Hilda.

"Ini bukan masalah seribu rupiah. Ini masalah ada di penjahit yang sudah mencaci maki, menyerang suku, mengancam pelanggan dengan kata-kata kasar. Hilda hanya meminta haknya. Mengapa urusan jadi panjang begini?" tegas Ni Luh.

Sorotan Ni Luh menambah perhatian publik terhadap jalannya mediasi yang dinilai tidak berpihak pada korban.

Arya Wedakarna lahir di Denpasar, 23 Agustus 1980, dan dikenal sebagai politikus, akademisi, serta mantan model dan penyanyi.

Ia pernah menjadi cover boy majalah Aneka dan bergabung dalam trio vokal FBI bersama Indra Bekti dan Roy Jordy.

Arya terpilih sebagai anggota DPD RI periode 2014-2019 dan kembali pada 2024 dengan raihan 378.300 suara.

Pendidikannya ditempuh dari SD Cipta Dharma Denpasar hingga S3 di Universitas Satyagama Jakarta.

Ni Luh Djelantik lahir di Bangli, 15 Juni 1975, dan merupakan pengusaha sepatu handmade asal Bali.

Ia memulai karier sebagai operator telepon di perusahaan tekstil Swiss sebelum akhirnya mendirikan merek NILOU dengan modal Rp33 juta.

Merek NILOU kini memiliki 36 butik di 20 negara, termasuk Australia, AS, Prancis, Jepang, dan Uni Emirat Arab.

Beberapa artis Hollywood seperti Gisele Bundchen, Tara Reid, dan Julia Roberts pernah menggunakan karyanya.

Keduanya kini sama-sama duduk di DPD RI mewakili Bali, namun berbeda sikap dalam menanggapi kasus dugaan rasisme ini.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung