Berita, Timur Tengah

Donald Trump Kerahkan Kapal AS Kawal Selat Hormuz, Iran Ancam Tutup Jalur Tempat Pantas AS di Teluk Persia Adalah Dasar Laut

Repelita.id

04 May 2026 18:15 WIB

Donald Trump Kerahkan Kapal AS Kawal Selat Hormuz, Iran Ancam Tutup Jalur Tempat Pantas AS di Teluk Persia Adalah Dasar Laut
Foto: Istimewa

Repelita Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengumumkan langkah mengejutkan di tengah kebuntuan proses perundingan damai dan gencatan senjata dalam perang melawan Iran.

Ia menyatakan bahwa AS akan mulai mengawal kapal-kapal yang terjebak di Teluk Persia melewati Selat Hormuz mulai hari Senin (4/5/2026).

ADVERTISEMENT

Trump memperingatkan bahwa segala bentuk gangguan akan ditanggapi dengan tegas terutama jika berasal dari Iran.

Keputusan ini merupakan respons cepat terhadap eskalasi di wilayah vital perdagangan dunia yang terus memanas.

Selat Hormuz yang lebarnya hanya 33 kilometer di titik tersempit mengalirkan 21 persen minyak dunia setiap hari.

Data terbaru dari U.S. Energy Information Administration menunjukkan sekitar 20 juta barel minyak melewati jalur tersebut.

Trump menyampaikan pengumuman itu melalui akun X (sebelumnya Twitter) pada malam Minggu (3/5/2026).

"Kami lindungi jalur perdagangan bebas. Iran jangan coba-coba," tulisnya dengan tegas.

Langkah ini sontak menambah ketegangan AS-Iran yang sudah memanas dalam beberapa bulan terakhir.

Iran menuduh AS telah melakukan provokasi berbahaya di kawasan Teluk Persia.

"Kami siap tutup selat jika perlu," kata Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh dari IRGC kepada Fars News.

Di tengah ketidakpastian perundingan dengan AS dan konflik di Selat Hormuz, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei mengeluarkan pernyataan mengejutkan.

Dalam pesan tertulis yang dibacakan televisi pemerintah, Ayatollah Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa satu-satunya tempat yang pantas untuk Amerika di Teluk Persia adalah di dasar perairannya.

Pernyataan tersebut menandai babak baru dalam sejarah kawasan dan menegaskan sikap keras Iran di tengah gencatan senjata yang rapuh.

Mojtaba Khamenei juga menegaskan bahwa Iran tidak akan berkompromi terkait kemampuan nuklir yang disebut sebagai aset nasional.

Pernyataan keras itu muncul saat Presiden Trump berupaya mendorong kesepakatan lebih luas dengan Teheran.

Tekanan global akibat lonjakan harga energi dan ketidakpastian keamanan di Teluk Persia semakin membebani kedua belah pihak.

"Dengan pertolongan Tuhan, masa depan Teluk Persia adalah masa depan tanpa Amerika dan kemakmuran bagi rakyat kawasan," ungkap Khamenei seperti dilansir Tasnim.

Sebelumnya Pemimpin Tertinggi Iran itu menegaskan bahwa negaranya tidak akan mundur menghadapi tekanan Amerika.

Sikap tegas itu sekaligus menjadi jawaban atas ketidakpuasan Trump terkait proposal negosiasi yang diajukan Teheran.

Dalam pernyataannya, Mojtaba Khamenei menyebutkan bahwa kebangkitan Iran saat ini tidak hanya soal kekuatan militer tetapi juga persatuan nasional.

Ia menegaskan jutaan rakyat Iran siap berkorban dalam menghadapi ancaman dari Zionisme Israel dan Amerika Serikat.

"Hari ini kebangkitan luar biasa bangsa Iran, tidak hanya terbatas pada puluhan juta orang yang siap berkorban dalam perjuangan melawan zionisme dan Amerika yang haus darah, kebangkitan ini juga telah menyatukan bangsa Iran yang menjumlah 90 juta jiwa baik dalam maupun luar negeri sebagai kesatuan umat yang berani dan terhormat," katanya.

Lebih lanjut Mojtaba Khamenei menekankan bahwa seluruh kemampuan strategis Iran mulai dari teknologi nuklir hingga misil merupakan aset yang akan dijaga sepenuhnya.

"Dengan seluruh identitas mereka, baik spiritual kemanusiaan, ilmu pengetahuan, industri, hingga teknologi dasar dan modern, mulai dari nano, bio, hingga nuklir dan misil, semuanya dianggap sebagai aset nasional dan akan dijaga sebagaimana mereka menjaga perbatasan laut darat dan udara mereka," tegasnya mengakhiri pernyataan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung