Repelita Jakarta - Langkah politik diambil oleh Juru Bicara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Guntur Romli, yang melemparkan pandangan kritis mengenai efek domino dari lonjakan mata uang asing terhadap stabilitas harga logistik di tanah air.
Melalui sebuah pernyataan tertulis yang diunggah lewat akun pribadi di platform media sosial X pada hari Minggu, 17 Mei 2026, dirinya membeberkan bahwa keperkasaan mata uang asing secara otomatis menekan sektor manufaktur domestik akibat ketergantungan masif pada pasokan eksternal.
ADVERTISEMENT
“Dolar naik, semua barang naik. Semua kena dampaknya orang desa, orangutan, orang se-Indonesia,” tulis Guntur Romli dalam unggahannya.
Politisi papan atas tersebut menguraikan kalkulasi bahwa mayoritas pasokan penunjang operasional pabrik di dalam negeri masih didatangkan melalui jalur perdagangan internasional dengan sistem pelunasan menggunakan mata uang asing.
Imbas dari skema dagang tersebut memicu pembengkakan modal operasional bagi para pelaku usaha manufaktur ketika nilai tukar domestik terus mengalami koreksi mendalam terhadap mata uang global.
“70 persen bahan industri di Indonesia masih impor. Dibayar pakai dolar. Kenaikan harga dolar bikin naik biaya produksi,” lanjutnya.
Lebih jauh lagi, dirinya berargumen bahwa beban operasional yang kian meninggi pada akhirnya akan dilimpahkan kepada lapisan masyarakat bawah melalui kebijakan penyesuaian tarif jual produk di pasar tradisional maupun modern.
Ia pun merinci jajaran komoditas kebutuhan logistik rumah tangga serta perawatan harian yang diklaim sudah mulai merangkak naik dan membebani dompet konsumen.
“Sabun mandi, sabun cuci, deterjen, shampo, snack-snack, uda pada naik, oli motor, suku cadang motor, biaya makan juga naik, beras, gula, minyak goreng dan lain-lain,” tulisnya.
Pernyataan terbuka dari perwakilan partai banteng tersebut seketika memicu gelombang atensi dari khalayak luas di tengah meluasnya kecemasan publik atas fluktuasi pasar finansial nasional belakangan ini.
Sejumlah analis finansial juga mengonfirmasi adanya risiko inflasi yang cukup tinggi akibat melambungnya ongkos impor yang berpotensi menurunkan daya beli riil dari masyarakat luas secara masif.
Kini opini yang diembuskan lewat jagat maya itu terus menuai perbincangan hangat di kalangan warganet lantaran dinilai sangat akurat dalam memotret himpitan ekonomi yang nyata dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok