Repelita [Jakarta] - Pegiat media sosial Tifauzia Tyasumma atau Dokter Tifa melontarkan kecaman pedas merespons kritik Ketua Joman Nusantara Bersatu Andi Azwan mengenai aspek meterai pada lembaran ijazah yang kini ramai disorot.
ADVERTISEMENT
Dokter Tifa menilai tudingan pembanding yang diarahkan kepadanya tersebut bersumber dari pemahaman yang minim serta dangkal atas pokok persoalan yang sedang diteliti.
Serangan balik tersebut disampaikan untuk mematahkan klaim Andi Azwan yang memprotes analisis fisik dokumen kelulusan lulusan Universitas Gadjah Mada.
"Yang disampaikan saudara Andi Azwan ini, namanya orang yang tahu sedikit tapi merasa tahu banyak," ujar Tifa, Kamis (6/8/2026).
Dokter Tifa bahkan tak segan menyematkan istilah bernada tajam guna menggambarkan figur yang dinilainya terlampau percaya diri atas wawasan yang terbatas.
"Dalam salah satu karakter ini, namanya orang bodoh merasa pintar," lanjutnya.
Perseteruan verbal ini dipicu oleh tindakan Andi Azwan yang sebelumnya membeberkan ketidaksesuaian analisis Dokter Tifa dengan realita administrasi kelulusan UGM periode 1985.
Andi menegaskan bahwa wacana perbedaan ciri fisik ijazah Kampus Biru sebenarnya telah berulang kali dibahas dan diluruskan.
"Saya bahas sesuatu ini, sebetulnya sudah lama dan sudah beberapa kali kita bahas," ujar Andi, Rabu (5/8/2026).
Ia menyoroti ulang cuplikan pemaparan Dokter Tifa yang mengeklaim memegang spesimen acuan paling valid di hadapan khalayak umum.
"Tapi ini kemarin agak menarik, terakhir yang menarik itu, ketika Dokter Tifa ini berbicara kepada publik, oleh media industri, atau publik dan sebagainya," ucapnya.
"Tifa mengatakan, ijazah asli ada di saya, yang benar adalah ini. Materainya warna merah," lanjut Andi menirukan klaim tersebut.
Andi menerangkan struktur pelaksanaan prosesi kelulusan UGM pada tahun 1985 yang terbagi ke dalam empat tahap terpisah.
Jokowi beserta jajaran mahasiswa angkatan 1980 dipastikan Andi tidak terdaftar dalam gelombang pertama kelulusan pada bulan Februari.
"Di UGM tahun 1985 itu ada 4 gelombang dalam wisuda. Gelombang pertama itu adalah di bulan Februari, nah di gelombang itu Pak Jokowi tidak ada teman-temannya yang tahun 1980 itu di wisuda," jelasnya.
Rujukan dokumen yang dipertontonkan Dokter Tifa disebutnya bersumber dari pelantikan wisudawan gelombang kedua di bulan Mei.
"Kemudian di gelombang kedua itu di bulan Mei. Nah itulah yang dibawa oleh Dokter Tifa, ijazah dari yang dia katakan warna materai itu warna merah Rp500," imbuhnya.
Guna mematahkan opini tersebut, Andi membeberkan contoh dokumen rekan seangkatan Jokowi yang lulus lebih awal dengan tempelan meterai merah nominal Rp100.
"Saya punya contoh di bulan yang sama, ini angkatannya Pak Jokowi yang tercepat, ada tiga orang. 1985, masuknya 80," terangnya.
"Masuknya 80, berarti masih materai merah. Nominalnya itu seratus, bukan lima ratus," sambungnya.
Ia menambahkan bahwa gelombang wisuda berikutnya pada bulan November beralih menggunakan meterai pecahan Rp100 berwarna hijau.
"Kemudian di bulan apa lagi ada? Ya itu di bulan Agustus, itu warna hijau. Tapi saya bawa ini adalah di bulan November, warna hijau. Tiga bulan-tiga bulan. Itu warna hijau materai Rp100," tandasnya.
Andi secara tegas menepis anggapan Dokter Tifa yang menyebut meterai hijau Rp100 semata-mata dikhususkan bagi jenjang sarjana muda.
"Kalau dia katakan warna hijau Rp100 itu adalah sarjana muda, itu bohong besar Dokter Tifa itu, dia hanya berhalusinasi," kuncinya. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok