Repelita Jakarta - Dokter Tifa menyampaikan refleksinya mengenai perubahan zaman, perkembangan teknologi, serta arah Indonesia di tengah situasi global yang terus berubah.
Pernyataan tersebut disampaikan Dokter Tifa melalui akun X @DokterTifa pada 21 September 2026 pukul 21.26 WIB.
ADVERTISEMENT
Dalam unggahannya, Dokter Tifa menggambarkan kondisi dunia yang menurutnya sedang berada dalam masa peralihan besar.
“NEGARA DI SIMPANG ZAMAN DUNIA PECAH TERBELAH Kita sedang hidup pada sebuah peralihan zaman. Sebagian institusi kehilangan kepercayaan. Teknologi bergerak lebih cepat dari kesadaran. Kekuasaan berubah bentuk.”
Dokter Tifa kemudian menyoroti perkembangan sumber daya dan teknologi yang dinilainya ikut memengaruhi perubahan geopolitik serta kehidupan manusia.
“Tambang logam langka mengubah arah geopolitik AI mulai mengubah manusia, pekerjaan, perang, kota, bahkan cara kita memahami realitas.”
Ia menghubungkan perubahan global tersebut dengan perkara hukum yang sedang dihadapinya dan menyebut proses tersebut sebagai bagian dari pencarian terhadap kebenaran.
“Di tengah perubahan sebesar itu, perkara yang membawa saya ke ruang pengadilan mungkin pada akhirnya hanyalah sebuah pintu kecil. Saya masuk melalui pertanyaan sederhana: Di manakah kebenaran?”
Menurut Dokter Tifa, perjalanan tersebut kemudian berkembang menjadi pertanyaan yang lebih luas mengenai arah Indonesia di tengah perubahan dunia.
“Tetapi semakin jauh perjalanan ini, pertanyaannya menjadi semakin besar: Indonesia sedang bergerak ke mana? Apakah mengikuti laju perubahan dunia, atau berlawanan arah?”
Dokter Tifa mengakui dirinya tidak mengetahui seluruh jawaban atas persoalan tersebut dan tidak mengklaim mampu melihat keseluruhan gambaran masa depan.
“Saya tidak tahu seluruh jawabannya. Saya juga tidak mengaku mampu melihat seluruh gambaran masa depan. Tetapi saya memilih untuk mencarinya. Membaca arahnya. Memprediksi pergerakannya.”
Ia menyebut ilmu, bukti, keberanian bertanya, serta keyakinan kepada Tuhan sebagai bagian dari sikap yang dipilihnya dalam menjalani pencarian tersebut.
“Dengan ilmu. Dengan bukti. Dengan keberanian bertanya. Dan dengan kesadaran bahwa di atas seluruh pengetahuan manusia, selalu ada Allah Yang Maha Mengetahui.”
Dokter Tifa kemudian menyampaikan pandangannya mengenai tanggung jawab suatu generasi ketika menghadapi perubahan besar yang terjadi di sekelilingnya.
“Barangkali tugas sebuah generasi bukan mengetahui persis bagaimana masa depan akan terjadi. Tugasnya adalah memastikan bahwa ketika masa depan itu datang, bangsanya masih mempunyai akal untuk berpikir, keberanian untuk bertanya, dan jiwa untuk menentukan jalannya sendiri.”
Ia menegaskan bahwa pemikirannya tidak hanya berkaitan dengan persoalan satu dokumen pendidikan, satu individu, atau satu pemerintahan.
“Maka perjalanan ini tidak berhenti pada satu ijazah. Tidak berhenti pada satu orang. Bahkan tidak berhenti pada satu rezim.”
Dokter Tifa menyebut proses tersebut sebagai upaya membaca perubahan zaman sekaligus memahami bagaimana kehidupan berkembang di tengah berbagai perubahan tersebut.
“Kita sedang membaca sebuah zaman. Bahkan menetapinya. Menjalaninya tanpa sadar sedang jadi apa kehidupan ini.”
Pada bagian akhir, Dokter Tifa menggambarkan kemungkinan munculnya suatu fase baru setelah berbagai perubahan dan persoalan yang berlangsung.
“Dan mungkin, tanpa banyak suara dan tanpa perlu menobatkan siapa pun sebagai penyelamat, dari pencarian panjang itulah fajar sebuah zaman baru perlahan-lahan mulai terlihat. Yang harus diawali dengan kekacauan di segala dimensi.” (*)
Editor: 91224 R-ID Elok
NEGARA DI SIMPANG ZAMAN
— Dokter Tifa (@DokterTifa) September 21, 2026
DUNIA PECAH TERBELAH
Kita sedang hidup pada sebuah peralihan zaman.
Sebagian institusi kehilangan kepercayaan.
Teknologi bergerak lebih cepat dari kesadaran.
Kekuasaan berubah bentuk.
Tambang logam langka mengubah arah geopolitik
AI mulai mengubah… pic.twitter.com/WY1l8Rb1cu