Berita, Nasional

Dituduh Sombong dan ‘Omong Gede’, Menkeu Purbaya Buka Suara: Itu Strategi Ekonomi,  Demi Pulihkan Psikologi Pasar dan Ekonomi Nasional

Repelita.id

09 September 2026 22:54 WIB

Dituduh Sombong dan ‘Omong Gede’, Menkeu Purbaya Buka Suara: Itu Strategi Ekonomi,  Demi Pulihkan Psikologi Pasar dan Ekonomi Nasional
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Kalangan otoritas keuangan tertinggi negara akhirnya memberikan tanggapan santai terhadap berbagai kritikan tajam serta penilaian miring yang dialamatkan kepada kementeriannya selama masa satu tahun kepemimpinan berjalan.

Pimpinan instansi fiskal tersebut sering kali dinilai terlalu percaya diri serta dituding gemar melontarkan pernyataan berlebihan akibat konsistensinya menyuarakan optimisme di tengah situasi ekonomi nasional yang penuh tantangan.

ADVERTISEMENT

Pendekatan komunikasi yang terkesan vokal dan agresif tersebut ditegaskan bukan merupakan wujud kesombongan personal, melainkan strategi terukur guna memulihkan psikologi pasar secara cepat.

Masa awal penugasan sebagai bendahara negara tidak dimulai dengan mudah karena situasi sosial politik saat itu sedang bergejolak akibat gelombang unjuk rasa besar-besaran di berbagai daerah.

Kondisi ketegangan tersebut sempat menciptakan kekhawatiran luas di kalangan pelaku usaha domestik maupun investor asing yang menanamkan modalnya di dalam negeri.

Pimpinan kementerian tersebut memahami bahwa ancaman paling berat kala itu bukan sekadar gangguan keamanan, melainkan hilangnya kepercayaan publik terhadap stabilitas ekonomi nasional secara keseluruhan.

"Pertama kan waktu saya jadi menteri, itu kan kita baru menghadapi demo besar. Saya mesti kembalikan confidence ke masyarakat secepat-cepatnya," kata Purbaya, dikutip pada Rabu (9/9/2026).

Langkah intervensi melalui kebijakan fiskal murni dinilai belum cukup memadai untuk memberikan dampak pemulihan instan di tengah situasi darurat ekonomi yang mendesak.

Oleh karena itu, jalur komunikasi publik langsung dimanfaatkan sebagai instrumen utama untuk memberikan kepastian kepada para pelaku pasar bahwa kondisi makroekonomi tetap terkendali.

Penerapan strategi tersebut didasari oleh konsep keilmuan makroekonomi mengenai pembentukan ekspektasi kolektif yang dapat mempengaruhi arah pergerakan pasar secara nyata.

Teori tersebut menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap masa depan ekonomi akan menentukan tindakan riil mereka dalam melakukan konsumsi maupun ekspansi bisnis.

Jika masyarakat dan investor diyakinkan bahwa kondisi keuangan akan membaik, maka aktivitas ekonomi akan terdorong bergerak ke arah positif sesuai harapan bersama.

Sebaliknya, pembiaran terhadap ketakutan pasar justru berpotensi menjerumuskan perekonomian nasional ke dalam jurang krisis yang lebih dalam akibat kepanikan massal.

"Caranya bagaimana? Saya terapkan pengetahuan yang sudah saya pelajari, macroeconomics of self-fulfilling prophecies. Jadi, kita membentuk ekspektasi, dari ekspektasi itu nanti biasanya ekonomi yang berjalan ke arah sana," ujarnya.

Pentingnya menjaga psikologi pasar tersebut membuat keputusan bisnis seperti investasi dan belanja rumah tangga sangat bergantung pada rasa aman yang dirasakan para pelaku ekonomi.

"Investor tidak takut investasi, masyarakat tidak takut belanja, perusahaan pun tidak takut ekspansi karena mereka pikir ekonomi akan membaik ke depan. Tapi kalau semua berpikir ekonomi akan meresesi, ekonomi bisa betul-betul resesi," jelas Menkeu.

Upaya membangun konstruksi harapan positif ini tentu mendatangkan risiko citra buruk bagi pejabat publik yang menyuarakannya di ruang publik nasional.

Risiko dianggap sombong dan melebih-lebihkan proyeksi dinilai sepadan demi tercapainya pemulihan psikologis pasar dalam tempo yang relatif singkat.

"Dalam waktu dekat kan susah untuk itu. Ya terpaksa saya omong gede, yang dibilang orang sombong, 'itu Purbaya sombong banget'. Itu bukan sombong, tapi desain untuk membentuk ekspektasi ke depan, ke arah yang positif," tegas Purbaya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung