Repelita [Jakarta] - Keputusan Dokter Tifa menghentikan keterlibatannya dalam pusaran kontroversi dokumen kelulusan Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo memicu polemik luas di ruang publik.
Ia bahkan mendapati serangan serta tudingan sebagai sosok yang melarikan diri dari perjuangan hukum.
ADVERTISEMENT
Melalui unggahan di akun media sosial X pribadinya di https://x.com/DokterTifa, ia memberikan argumentasi serta refleksi historis atas istilah perubahan arah perjuangan yang digunakannya.
"Ampun deh. Malah sampai disebut pengecut segala macam. Allahuakbar. Umat Muslim, kapan kita belajar kata pertama hijrah digunakan? 1.500 tahun yang lalu Nabiyullah Rasulullah SAW berhijrah dari Mekkah ke Yatsrib yang kemudian menjadi Madinah. Apakah beliau mundur dari perjuangan menyebarluaskan Islam? TIDAK! Apakah lantas beliau pengecut! TIDAK SAMA SEKALI!" tulisnya di akun X.
Penelitian mengenai dokumen akademik tersebut diakuinya telah berlangsung sejak rentang waktu yang cukup lama.
"Saya Hijrah dari urusan Ijazah Jokowi. Karena saya memperjuangkan kebenaran ini sejak tahun 2022, jauh sebelum orang-orang lain melakukannya. Saya mengkaji, meneliti, mengobservasi dalam hening dan diam. Lalu mendadak viral karena saya dilaporkan polisi oleh Joko Widodo 30 April 2025," tuturnya.
Perhitungan beban waktu serta penderitaan selama menjalani rentetan proses hukum turut dibeberkan secara terperinci.
"Artinya total 4 tahun saya meneliti ijazah ini. Ditambah 450 hari saya dikriminalisasi. Artinya 1.460 hari + 450 hari = 1.910 hari saya menghabiskan waktu untuk mengurusi ijazah ini. Berapa Miliar Rupiah saya keluarkan untuk berjuang dengan segala macam perjuangan ini. Keluar dari kantong sendiri! Tanpa bohir!" tegas dia.
Rangkuman temuan tersebut telah dibukukan hingga berlanjut pada proses persidangan yang dinamis.
"Hasil penelitian saya rampung dan bulan Agustus 2025 dan menjadi buku Jokowi's White Paper. Masih lagi ditambah saya berurusan dengan POLDA menjadi saksi, terlapor, tersangka, lalu terdakwa. Ditahan, disidang, kemudian setelah berjuang empat kali sidang duduk di kursi terdakwa. Kemudian 23 Juli 2026 status terdakwa saya dinyatakan batal demi hukum," katanya.
Sindiran keras juga dilayangkan kepada deretan pengkritik yang dinilai tidak memberikan sumbangsih nyata dalam perjuangannya di meja hijau.
"Kalian bantu saya apa selama ini? Beli buku saya kek. Borong buku biar saya tenang berjuang tanpa mikir dengan apa saya membiayai perjuangan ini. Jangan cuma jadi komentator bola di lapangan seakan jadi si paling berjuang," tuturnya.
"Bantu beli buku kagak. Datang temani saya bersidang kagak. Menghujat paling duluan. Kalah berani sama perempuan. Huh! Cemen!" sentil Dokter Tifa.
Kabar mengenai upaya kompromi politik maupun kunjungan tertutup ke kediaman mantan presiden dibantah tegas olehnya.
"Lalu saya mau berhijrah kok pada protes. Bahkan memaki saya pengecut. Bahkan sekarang ini isu mencuat saya dikatakan diam-diam ke Solo. Allahuakbar! Jika saya mau berdamai dengan Joko Widodo, akan saya terima tawaran itu jauh-jauh hari," sambung Dokter Tifa.
Penetapan status hukum yang kembali terancam bakal direspons melalui mekanisme gugatan resmi di lembaga peradilan.
"Sekarang, ketika status bebas saya terancam dibatalkan, ya tentu saya harus melawan, dong. Saya bebas cuma tiga hari lalu tiba-tiba jadi terdakwa lagi dengan panggilan sidang. Ya harus saya lawan dong. Dengan apa? Ya dengan fasilitas hukum yang ada mulai dari Pra Peradilan. Maka saya mengajukan Pra Peradilan! Diizinkan Mahkamah Agung maka insyaAllah Rabu 12 Agustus 2026 saya berjuang lagi di sidang," imbuhnya.
Langkah pengalihan fokus perjuangan akan diprioritaskan pada penanganan krisis kesehatan serta persoalan geopolitik global yang dinilai makin mendesak.
"Saya mau urusi banyaaak sekali masalah-masalah yang di depan mata: ancaman kesehatan yang makin meledak, teknologi Vaksin yang harus diawasi, senjata biologis yang menjadi bagian dari Perang Dunia III, gangguan mental massal yang bikin banyak bunuh diri dan pembunuhan sadis, masalah geopolitik, sosial, kesejahteraan, status gizi buruk, angka infeksi yang meledak," ungkapnya. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok