Berita, Peristiwa

Disdikbud Kaltim Ungkap Fakta Baru di Balik Meninggalnya Pelajar SMK Samarinda

Repelita.id

05 May 2026 17:15 WIB

Disdikbud Kaltim Ungkap Fakta Baru di Balik Meninggalnya Pelajar SMK Samarinda
Foto: Istimewa

Repelita Samarinda - Kasus meninggalnya Mandala Rizky Saputra, seorang pelajar Sekolah Menengah Kejuruan di Samarinda, Kalimantan Timur, mendadak menjadi buah bibir nasional setelah narasi meninggal karena sepatu sempit viral di berbagai platform media sosial.

Investigasi terbaru yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Timur berhasil mengungkap tabir yang jauh lebih kompleks di balik musibah yang menimpa remaja tersebut berdasarkan data yang dikumpulkan per Mei 2026.

ADVERTISEMENT

Pihak otoritas menegaskan bahwa penurunan kondisi kesehatan Mandala terjadi secara sistemik dan bertahap dalam jangka waktu tertentu, bukan dipicu secara instan oleh faktor tunggal sepatu kesempitan seperti yang beredar luas.

Tim medis beserta pihak sekolah mencatat adanya komplikasi gejala yang mulai muncul sejak periode pasca pelaksanaan praktik kerja lapangan atau PKL yang dijalani oleh almarhum.

"Ada penurunan kondisi fisik yang terjadi secara bertahap, bukan hanya satu faktor. Kami meminta masyarakat melihat informasi ini secara utuh agar tidak muncul spekulasi yang menyesatkan," tegas Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Timur, Armin.

Rangkaian peristiwa tragis ini bermula saat Mandala menyelesaikan program magangnya dengan aktif di sebuah pusat perbelanjaan ternama yang berada di wilayah Kota Samarinda.

Pada periode Februari hingga Maret 2026, Mandala melaksanakan tugas praktik kerja lapangan dengan penuh semangat dan tanggung jawab tanpa keluhan berarti.

Tanggal 30 Maret 2026, ia kembali ke sekolah dalam kondisi fisik yang tampak normal dan masih bisa berinteraksi dengan teman-temannya.

Namun pada tanggal 1 April 2026, kondisi kesehatan Mandala mulai menurun drastis ketika ia mengeluh pusing yang sangat hebat disertai rasa lemas yang luar biasa.

Pihak sekolah yang melihat kondisinya memprihatinkan kemudian meminta Mandala untuk pulang lebih awal ke rumah guna beristirahat yang cukup.

Pada tanggal 2 April 2026, pihak keluarga secara resmi mengirimkan surat izin sakit ke sekolah karena Mandala sudah tidak mampu beraktivitas sama sekali.

Tanggal 8 April 2026, kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas membuat orang tua Mandala meminta bantuan dana ke sekolah untuk kebutuhan pengobatan yang mendesak.

Merespons memburuknya kondisi sang siswa, pihak sekolah sama sekali tidak tinggal diam dan berusaha memberikan bantuan semaksimal mungkin.

Pada tanggal 21 April 2026, tim pengajar melakukan kunjungan ke kediaman Mandala dan mendapati kondisi yang memprihatinkan dimana kedua kaki sang siswa membengkak hebat.

Meskipun bengkak, pihak tim medis melaporkan bahwa tidak ditemukan luka lecet atau luka terbuka di kaki Mandala yang biasanya muncul akibat gesekan sepatu sempit.

Sempat muncul dugaan dari pihak keluarga bahwa kondisi kesehatan yang memburuk ini berkaitan dengan gangguan non medis yang bersifat spiritual.

Namun pihak sekolah tetap memfasilitasi pengurusan BPJS Kesehatan dan dengan tegas menyarankan agar Mandala segera menjalani pemeriksaan medis di rumah sakit.

Pada tanggal 23 April 2026, kondisi Mandala sempat menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang menggembirakan dimana bengkak pada kakinya mulai mengempis dan tampak lebih stabil.

Namun takdir berkata lain ketika kabar duka yang mendalam datang tepat pada tanggal 24 April 2026, mengakhiri perjuangan Mandala melawan penyakit yang tidak diketahui pasti penyebabnya.

Mengenai isu sepatu kekecilan yang menjadi pemicu kematian, pihak terkait memberikan sejumlah poin klarifikasi penting untuk meluruskan persepsi publik yang keliru.

Mandala diketahui mengenakan sepatu dengan ukuran nomor 43 yang secara fisik merupakan ukuran besar dan tergolong jarang untuk remaja seusianya.

Secara klinis, jika kematian disebabkan oleh infeksi luka akibat sepatu seperti sepsis maka seharusnya ditemukan luka lecet yang signifikan di area kaki.

Namun pemeriksaan fisik secara langsung menunjukkan bahwa kaki Mandala tetap mulus dan tidak ditemukan luka meskipun kondisinya membengkak hebat.

Para ahli menduga bahwa pembengkakan yang dialami Mandala berkaitan dengan kondisi kesehatan internal yang memerlukan diagnosa klinis lebih mendalam.

Pihak sekolah telah menunjukkan dedikasi penuh dengan mendampingi keluarga almarhum sejak masa kritis hingga proses pemulasaraan jenazah dan penguburan.

Selain bantuan dana pengobatan awal, sekolah juga memastikan seluruh hak-hak administratif Mandala sebagai siswa terpenuhi selama masa sakitnya berlangsung.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung