Repelita Jakarta - Solusi serta pandangan kritis mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal mengenai dinamika ekonomi nasional dan indeks MSCI memantik tanggapan luas dari berbagai kalangan pemerhati publik. Kehadiran komentar tersebut langsung direspons oleh tokoh nasional seperti mantan Sekretaris BUMN Said Didu hingga kritikus Faizal Assegaf.
Dalam tanggapannya melalui akun media sosial X pada Sabtu, 24 Oktober 2026, Said Didu memberikan saran agar publik turut mencermati langkah konkret serta upaya nyata yang telah dieksekusi oleh pihak regulator keuangan. Ia menilai Otoritas Jasa Keuangan beserta jajaran pemerintah telah menjalankan prosedur yang terbilang sangat maksimal untuk memenuhi standar internasional.
ADVERTISEMENT
“Sebaiknya Bapak juga mendengarkan apa yg sudah dan sedang dilakukan oleh pemerintah (@ojkindonesia),” tulis Said Didu pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Ia menegaskan bahwa ikhtiar yang ditempuh Indonesia sudah melampaui tenggat persyaratan, namun sikap perlakuan yang diterima dari pihak pemeringkat dinilai kurang berimbang.
“Indonesia sdh lakukan lebih dari negara lain dan sdh melebihi permintaan MSCI, tapi hanya Indonesia yang diberikan “sanksi”. Mari kita obyektif dg basis nasionalisme,” ujarnya. Tanggapan bernada optimis juga dilontarkan oleh kritikus Faizal Assegaf yang mengajak seluruh pihak mengambil nilai positif dari masukan tersebut demi perbaikan tata kelola nasional.
“Ambil sisi positifnya, dengarkan dengan pikiran yg cerdas dan mulailah berbenah,” sebut Faizal Assegaf. Menurutnya, sinergi serta keterbukaan dalam menerima ide perbaikan menjadi kunci penting dalam menjaga stabilitas iklim perekonomian bangsa ke depan.
“Bermegara harus & wajib saling berangkulan demi tujuan bersama,” tuturnya. Sebelumnya, peringatan penting terkait potensi krisis finansial sempat disampaikan langsung oleh Dino Patti Djalal melalui tayangan video di akun media sosial X pribadinya pada Sabtu, 24 Oktober 2026.
Ia menekankan agar seluruh pemangku kebijakan tidak memandang sebelah mata gejolak sektor keuangan mengingat riwayat sejarah berdirinya rezim kepemimpinan nasional di masa lalu. Ia mengingatkan kembali peristiwa berhentinya kepemimpinan Presiden Soeharto yang dipicu oleh akumulasi persoalan krisis moneter yang merembet ke ranah multidimensi.
“Jangan pernah meremehkan masalah keuangan yang menumbang Pemerintah Soeharto. Yang waktu itu jauh lebih kuat dari Pemerintah sekarang,” kata Dino Patti Djalal pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Menurut pandangannya, kerapuhan ekonomi dapat bereskalasi menjadi krisis legitimasi sosial serta stabilitas politik secara menyeluruh jika tidak diantisipasi secara sigap.
“Bukan invasi asing atau kudeta militer, tapi krisis moneter yang berubah menjadi multi krisis,” sebutnya. Peringatan tersebut kemudian berlanjut pada gejala erosi kepercayaan yang dinilainya mulai menggejala di kalangan pelaku usaha sektor riil dari tingkat atas hingga bawah.
“Kriris ekonomi, kritis sosial, krisis keamanan, krisisi legitimasi dan krisis politik,” sambungnya. Ia menggarisbawahi pentingnya kewaspadaan dini agar indikator penurunan kepercayaan dunia usaha serta investor dapat segera dipulihkan melalui kebijakan yang tepat sasaran.
“Belakangan ini, benih-benih erosi kepercayaan sudah mulai kelihatan di kalangan pengusaha baik di dalam maupun luar negeri,” ujarnya. Gejala penahanan modal serta kehati-hatian pelaku pasar disebutnya telah merambah ke berbagai tingkatan pengusaha nasional.
“Erosi kepercayaan di dalam negeri sudah terasa di pengusaha papan atas, menengah dan bawah,” tuturnya. Atas dasar kondisi tersebut, ia sangat berharap agar Presiden Prabowo Subianto mendapatkan pemetaan informasi yang akurat mengenai realitas iklim usaha di lapangan.
Ia mengingatkan pentingnya langkah penanganan medis sejak dini terhadap indikator erosi kepercayaan sebelum dampaknya semakin meluas dan sulit ditangani. “Dan kalau Presiden tidak mencium gejala ini berarti beliau tidak mendapat informasi yang sebenarnya mengenai kondisi di lapangan,” terangnya.
“Saran lebih baik mengobati erosi kepercayaan ini dari awal ketimbang menunggu sampai tidak tertolong lagi,” tutupnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok