Repelita Jakarta - Gelombang protes dari masyarakat sipil terkait lambatnya penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan kembali meletus di wilayah Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
ADVERTISEMENT
Aksi unjuk rasa digital maupun gerakan di lapangan tersebut mencuat sebagai bentuk kekecewaan mendalam atas kepungan kabut asap beracun yang terus mendera hajat hidup warga.
Informasi seputar keluhan publik atas krisis ekologis yang berkepanjangan ini sebelumnya disebarluaskan oleh salah satu akun media sosial berbasis teks dan dokumentasi visual.
Unggahan bermuatan kritik tajam terhadap kinerja jajaran kepemimpinan nasional tersebut pertama kali dipublikasikan oleh nama akun @riyandi.97 pada hari Jumat tanggal 23 Oktober 2026.
Dalam takarir tertulisnya, pihak pengunggah menjabarkan bahwa seluruh elemen warga berhak untuk menghirup udara bersih serta menuntut negara agar lebih peka mendengar jeritan daerah.
Kondisi paparan polusi udara akibat kebakaran vegetasi hutan berskala besar tersebut diklaim telah berlangsung selama berbulan-bulan tanpa adanya tindakan penanggulangan yang komprehensif.
"They’re here fighting for all of us, for the children, the elderly, the victims, and everyone who has been ignored and failed by the government. We’re here to protest. We deserve the right to breathe clean air, we deserve to speak our voices, we deserve to be heard. It’s been months of breathing toxic haze of forest fire here, yet the government acts like nothing is happening" tulis akun tersebut.
"P.S. Sorry to our neighboring countries for the toxic haze our government seems perfectly fine ignoring. 😷" tulis akun @riyandi.97 menambahkan pesan permohonan maafnya kepada negara tetangga.
Dinamika protes seputar penanganan bencana lingkungan di pulau Borneo ini seketika membanjiri lini masa serta memicu gelombang komentar yang sangat masif dari warga net.
Para pengguna internet terpantau berbondong-bondong meluncurkan beragam respons tertulis persis di bawah kolom komentar unggahan akun @riyandi.97 pada Jumat, 23 Oktober 2026.
"Semoga turun hujan di Kalteng juga turunkan pemimpin nya 🙃🥵" tulis akun @rikkaingo04 menyuarakan keresahan sosiopolitiknya di kolom komentar.
"Amin paling kencang! 😷" tulis akun @riyandi.97 selaku penulis asli unggahan merespons doa dari pengikutnya secara langsung.
"Everyone, please don’t get tired of reposting and liking all the threads showing the reality in Kalimantan and Papua right now!!! We need to keep this on the algorithm!!! Don’t let everyone move on from this man-made disaster that is STILL happening!!! 😭😭" tulis akun @hutagalungzefanyanya.
"Couldn’t agree more!" tulis akun @riyandi.97 memberikan bentuk dukungan penuh atas gerakan penyebaran informasi tersebut.
"Let’s do it now before it’s too late" tulis akun @riyandi.97 menyahuti pernyataan kritis mengenai masa depan daerah terdampak polusi.
"Teruntuk teman-teman yang belum bisa menyuarakan aspirasinya secara langsung tapi terus peduli dengan kondisi saat ini lewat aksi digital, izin mengingatkan yaa, apapun itu statementnya dari para "pengetik bayaran" baik itu akunnya kecil apalagi besar. kaya apapun ketikannya, baik itu nyebelin, menyenggol ego kalian & kehidupan pribadi. cukup langsung di block aja, gak perlu buang-buang energi positif kalian buat pengetik bayaran itu. yuk, buat gerakan perjuangan ini makin efektif. ✊🏻✊🏻" tulis akun @rotiisrikayaa.
"Kita ramaikan algoritma dengan apa yang terjadi sekarang nyata apa adanya biar gak dibilang baik2 ajaa 🫠" tulis akun @riyandi.97 mengakhiri rentetan diskusi digital tersebut pada Jumat, 23 Oktober 2026.
Aksi boikot narasi damai buatan serta pengoptimalan penyebaran realitas lapangan ini kian mempertegas tuntutan publik yang mendesak adanya pembenahan serius atas tata kelola lingkungan nasional.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
View on Threads