Repelita Jakarta - Gelombang perombakan kabinet oleh Presiden Prabowo Subianto kembali menguncang stabilitas politik nasional hingga menjadi sorotan publik luas.
Pemerintahan yang baru berjalan kurang lebih dua tahun tersebut tercatat telah melancarkan tindakan penggantian menteri sebanyak enam kali berturut-turut.
ADVERTISEMENT
Langkah cepat bongkar pasang jajaran menteri ini dinilai oleh berbagai pihak sebagai sebuah rekor baru sepanjang sejarah tata kelola pemerintahan era modern.
Pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dari posisi Menteri Keuangan secara tiba-tiba pun mengundang perhatian utama dari masyarakat.
Purbaya Yudhi Sadewa yang dahulunya dilantik demi menggantikan Sri Mulyani kini menyerahkan kepemimpinan Bendahara Negara kepada Suahasil Nazara yang resmi dilantik di Istana Negara pada Senin, 14 September 2026.
Pengamat Politik sekaligus alumnus FISIPOL UGM Heru Subagia memaparkan pandangan kritisnya terkait kebiasaan pergantian pejabat di lingkungan istana tersebut.
Heru Subagia menilai pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa memperlihatkan pola kepemimpinan Presiden Prabowo yang begitu lugas namun sangat serba cepat.
Gaya pemberhentian mendadak ini mengingatkan masyarakat pada peristiwa pencopotan Budi Arie dari kursi Menteri Koperasi pada September 2025 yang lalu.
"Ada pola berulang yang sangat kentara. Pada pagi harinya, menteri yang bersangkutan masih aktif menjalankan agenda kedinasan bersama lembaga legislatif, namun pada sore harinya langsung diumumkan terkena reshuffle," ujar Heru Subagia dalam keterangannya.
Peristiwa serupa terjadi pada Senin, 14 September 2026 sekitar pukul 10.00 WIB tatkala Purbaya Yudhi Sadewa masih memimpin rapat kerja bersama Komite VI DPD RI selaku Menteri Keuangan.
Namun hanya selang beberapa jam saja sekitar pukul 15.30 WIB pada hari yang sama, jabatannya mendadak resmi dialihkan kepada figur lain.
"Pola pemberhentian serba cepat ini bukan sekadar urusan rotasi birokrasi biasa. Ini menyentuh persoalan etika, hierarki, hingga peta persaingan kekuasaan di tingkat elite," tegas alumni FISIPOL UGM tersebut.
Menurut Heru Subagia, Purbaya Yudhi Sadewa merupakan sosok teknokrat mandiri yang tidak ditopang oleh kekuatan atau backing partai politik mana pun.
Perjalanan tugasnya di Kementerian Keuangan dipenuhi oleh deretan kebijakan berani yang pada akhirnya memicu benturan di berbagai lini.
Langkah efisiensi anggaran Makan Bergizi Gratis menjadi salah satu terobosan Purbaya Yudhi Sadewa yang memangkas proyeksi penyerapan dari Rp330 triliun menjadi di bawah Rp200 triliun hingga maksimal Rp240 triliun.
Penghematan anggaran tersebut dinilai mengganggu skema pergerakan para pemburu keuntungan di sekeliling proyek nasional itu.
Purbaya Yudhi Sadewa juga bertindak tegas menagih dividen BUMN atau Danantara sebesar Rp120 triliun serta menggelar sidak terhadap pengusaha asing yang menunggak pajak.
Keberanian Purbaya Yudhi Sadewa berlanjut saat membongkar kejanggalan restitusi pajak Rp160 triliun periode Januari hingga April 2026, memotong dana transfer daerah demi menekan defisit, serta membantah isu jual beli jabatan Rp100 miliar.
"Langkah-langkah tegas Purbaya memang berdampak positif bagi penerimaan negara. Namun di sisi lain, bagi pihak-pihak tertentu yang kepentingannya terganggu, gebrakan tersebut dianggap sebagai ancaman serius," jelas Heru.
Walaupun pergantian menteri merupakan hak prerogatif Presiden, pemberhentian mendadak Purbaya Yudhi Sadewa justru makin mendongkrak popularitas sang mantan Menkeu di mata publik.
"Purbaya bukan lagi sekadar pembantu presiden, tetapi sudah masuk dalam radar politik nasional. Publik melihatnya sebagai figur intelektual dan teknokrat yang memiliki kombinasi langka: kapasitas teknis, keberanian, dan gaya komunikasi publik yang lugas," papar Heru.
Dirinya menambahkan apabila perombakan kabinet ini bertujuan membatasi pergerakan Purbaya Yudhi Sadewa, tindakan tersebut malah berpotensi mendongkrak ketenarannya menuju panggung politik masa depan.
Guna mempertahankan rekam jejak positifnya, Heru Subagia menyarankan Purbaya Yudhi Sadewa untuk terus berkontribusi melalui lembaga masyarakat sipil maupun wadah pemikiran strategis.
"Purbaya memiliki daya dongkrak popularitas dan modal kepemimpinan yang kuat. Jika ia konsisten memperjuangkan transparansi dan tata kelola negara yang bersih bersama elemen masyarakat sipil, kepercayaan publik akan semakin besar," pungkas Heru.
Berbekal modal sosial yang solid, Purbaya Yudhi Sadewa diprediksi tetap menjadi tokoh penting yang diperhitungkan di kancah legislatif maupun ajang Pemilu 2029 mendatang.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok