Repelita [Jakarta] - Polemik terkait keabsahan dokumen akademik Presiden ketujuh Republik Indonesia kembali memicu perbincangan publik akibat sorotan tajam pada ragam huruf.
Sejumlah pihak sempat mempertanyakan penggunaan jenis huruf menyerupai teknologi modern pada lembar pengesahan dan sampul karya ilmiah masa lampau tersebut.
ADVERTISEMENT
Menanggapi polemik itu, Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Sigit Sunarta, menegaskan bahwa pemeriksaan dokumen wajib melibatkan perbandingan teliti.
Pihaknya menyarankan agar penelaahan tidak hanya berfokus pada berkas milik Joko Widodo semata, melainkan disandingkan dengan arsip mahasiswa seangkatan.
“Seharusnya pihak yang menuding tidak hanya menampilkan ijazah dan skripsi Joko Widodo saja yang ditelaah, namun harus juga melakukan perbandingan dengan ijazah dan skripsi yang diterbitkan pada tahun yang sama di Fakultas Kehutanan,” ujar Sigit.
Penjelasan lebih lanjut mengungkap bahwa pencetakan sampul serta lembar pengesahan kala itu memanfaatkan jasa pihak ketiga di sekitar kawasan kampus.
Beberapa nama usaha cetak terkemuka seperti Sanur dan Prima menjadi langganan mahasiswa era tersebut untuk merapikan sampul laporan studi akhir mereka.
Sementara itu, bagian isi lembar kertas tebal berjumlah puluhan halaman tersebut tetap diketik menggunakan perangkat mesin tik konvensional yang lazim saat itu.
Pembedaan teknik pembuatan antara bagian sampul dan isi membuktikan bahwa penggunaan jasa percetakan luar tidak berkaitan dengan teknologi komputer modern.
Isu lain yang turut dipersoalkan publik mengenai nomor seri ijazah juga ditanggapi secara terbuka oleh pihak pimpinan fakultas terkemuka tersebut.
Sistem administrasi penomoran ijazah masa lalu belum memiliki keseragaman universal karena setiap fakultas masih menerapkan kebijakan pencatatan mandiri.
“Nomor tersebut berdasarkan urutan nomor induk mahasiswa yang diluluskan dan ditambahkan FKT, singkatan dari nama fakultas,” ucap Sigit.
Pihak universitas memastikan seluruh arsip riwayat pendidikan, keaktifan berorganisasi mahasiswa, hingga proses penyusunan skripsi tercatat secara lengkap.
“Perlu diketahui ijazah dan skripsi dari Joko Widodo adalah asli. Ia pernah kuliah di sini, teman satu angkatan beliau mengenal baik beliau, beliau aktif di kegiatan mahasiswa (Silvagama), beliau tercatat menempuh banyak mata kuliah, mengerjakan skripsi, sehingga ijazahnya pun dikeluarkan oleh UGM adalah asli,” tegas Sigit.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok