Repelita [Jakarta] - Polemik terkait keabsahan dokumen kelulusan mantan kepala negara kembali memicu diskusi publik yang menyoroti detail penggunaan jenis huruf pada lembar sampul karya ilmiah.
Pihak yang melontarkan keraguan sempat mempersoalkan penggunaan corak huruf tertentu pada sampul skripsi masa lalu yang dinilai belum populer pada dekade delapan puluhan.
ADVERTISEMENT
Menanggapi polemik tersebut, pimpinan fakultas tempat almamater sang mantan presiden menempuh pendidikan tinggi memberikan penjelasan resmi guna meluruskan informasi yang keliru.
Pihak universitas menegaskan bahwa analisis terhadap dokumen masa lampau wajib dilakukan secara komprehensif dengan membandingkannya bersama arsip mahasiswa lain dari periode yang setara.
Seruan agar pihak penuduh melakukan verifikasi secara menyeluruh disampaikan melalui kutipan kalimat, “Seharusnya pihak yang menuding tidak hanya menampilkan ijazah dan skripsi Joko Widodo saja yang ditelaah, namun harus juga melakukan perbandingan dengan ijazah dan skripsi yang diterbitkan pada tahun yang sama di Fakultas Kehutanan,”.
Penyusunan sampul karya ilmiah pada masa itu umumnya dikerjakan melalui jasa layanan pencetakan komersial yang tersedia di sekitar lingkungan kampus perguruan tinggi.
Keberadaan sarana penunjang percetakan lokal pada masa lampau dijelaskan secara terperinci melalui kutipan kalimat, “Fakta adanya mesin percetakan di Sanur dan Prima juga seharusnya diketahui yang bersangkutan karena yang bersangkutan juga kuliah di UGM,”.
Bagian isi keseluruhan naskah skripsi tebal tersebut dipastikan masih menggunakan teknologi mesin ketik manual yang lazim dipakai mahasiswa sezamannya.
Sistem penomoran ijazah yang sempat dipersoalkan juga ditegaskan memiliki standar administrasi tersendiri yang berlaku khusus di lingkungan fakultas pada masa itu.
Aturan penomoran ijazah masa lalu dijabarkan lewat kutipan kalimat, “Nomor tersebut berdasarkan urutan nomor induk mahasiswa yang diluluskan dan ditambahkan FKT, singkatan dari nama fakultas,”.
Seluruh rekam jejak akademik mulai dari kehadiran kuliah hingga keaktifan berorganisasi mahasiswa tercatat dengan rapi di dalam arsip resmi institusi pendidikan tinggi.
Kepastian autentisitas dokumen kelulusan tersebut ditegaskan kembali melalui kutipan kalimat, “Perlu diketahui ijazah dan skripsi dari Joko Widodo adalah asli. Ia pernah kuliah di sini, teman satu angkatan beliau mengenal baik beliau, beliau aktif di kegiatan mahasiswa (Silvagama), beliau tercatat menempuh banyak mata kuliah, mengerjakan skripsi, sehingga ijazahnya pun dikeluarkan oleh UGM adalah asli,”.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok