Repelita Jakarta - Mantan Komisaris Independen PT Pelni Dede Budhyarto melontarkan sorotan tajam terkait orientasi kritik pengamat politik Rocky Gerung yang dinilainya kini jauh lebih melunak terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Dede berpandangan bahwa sosok pengamat tersebut selama ini selalu tampil sangat garang dan tanpa kompromi ketika melayangkan kritik kepada mantan Presiden Joko Widodo beserta seluruh anggota keluarganya.
ADVERTISEMENT
Namun, ketajaman dan gaya kritik serupa dinilai mendadak hilang tanpa bekas tatkala Rocky dihadapkan pada jalannya roda kepemimpinan nasional yang baru di bawah kendali Prabowo Subianto.
Melalui akun media sosial miliknya pada Rabu 9 September 2026, Dede menuangkan pandangan kritis tersebut secara terbuka kepada khalayak luas.
"Menurut saya Rocky Gerung tdk berubah: tajam kepada Jokowi & keluarganya, tetapi mendadak tumpul kepada Prabowo. Sejak Pilpres 2019 pun namanya sempat disebut masuk bursa kabinet," tulis akun @kangdede78 Rabu (9/9).
Lebih lanjut, ia mengimbau kepada masyarakat luas agar tidak merasa heran ataupun kaget melihat arah pandangan politik yang ditunjukkan oleh sang pengamat saat ini.
Ia bahkan secara terbuka meragukan integritas Rocky sebagai seorang pengkritik murni yang bersikap netral terhadap segala bentuk kekuasaan yang sedang berjalan di negara ini.
"Ada yang baru sadar sekarang? Kami sudah 10 tahun menghadapinya. Dia bukan pengkritik kekuasaan, cuma konsisten anti-Jokowi & keluarganya," imbuhnya dalam narasi yang sama.
Menurut penilaian Dede, melempemnya performa kritik tersebut merupakan sesuatu yang wajar mengingat faktor usia serta kejenuhan setelah bertahun-tahun berada di luar lingkar kekuasaan formal.
"Jadi kalau hari ini terlihat “melempem”, ya wajar, memang loyalis. Mungkin juga sudah capek terus-terusan di luar kekuasaan, usia makin menua," tandasnya.
Di sisi lain, Rocky Gerung sebelumnya sempat memberikan penjelasan tersendiri mengenai alasan di balik perbedaan gaya penyampaian kritik terhadap pemerintahan Prabowo saat ini.
Ia berargumen bahwa berbagai persoalan krusial seperti pembangunan Ibu Kota Nusantara hingga beban utang proyek kereta cepat memiliki akar historis kebijakan dari masa lalu.
Sehingga, arah kritikan yang ia sampaikan secara otomatis masih menyasar kepada fondasi kebijakan era kepemimpinan sebelumnya.
Kendati demikian, pengamat tersebut menegaskan bahwa dirinya tetap akan bersikap kritis apabila rezim saat ini kedapatan mengalokasikan anggaran negara untuk melanjutkan program yang bermasalah.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok