Repelita Jakarta - Sutradara film dokumenter Dirty Vote, Dandhy Laksono, melontarkan kritik menohok terhadap pernyataan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya yang mengeluhkan fenomena inflasi pengamat.
Dandhy mengaitkan pernyataan Teddy dengan sejumlah peristiwa yang ia anggap lebih serius dan mendesak untuk menjadi perhatian pemerintah.
ADVERTISEMENT
“Ada polisi nembak-nembakin orang di Dogiyai atau tentara berkeliaran nyiram air keras di Jakarta," ujar Dandhy dikutip pada Minggu (12/4/2026).
Dandhy mempertanyakan mengapa perhatian pejabat justru tertuju pada kritik dari para pengamat sementara persoalan-persoalan serius di lapangan terabaikan.
“Dan pemakan pajak ini (Teddy Indra Wijaya) risau soal pengamat?," cetusnya.
Sebelumnya, fenomena maraknya komentar publik dari berbagai kalangan mendapat perhatian Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya yang menyinggung munculnya banyak pihak mengaku sebagai pengamat namun tidak memiliki dasar keahlian maupun data yang memadai.
Menurut Teddy, kondisi tersebut berpotensi membentuk opini yang tidak sepenuhnya berpijak pada fakta di tengah masyarakat.
Teddy menyebut saat ini terjadi lonjakan jumlah pengamat di berbagai bidang di mana tidak sedikit di antaranya berbicara di luar kompetensinya.
“Kemudian yang ketiga, saya mau jawab juga. Sekarang ini, ada satu fenomena. Apa itu? Ada yang namanya inflasi pengamat. Jadi, banyak sekali pengamat. Ada pengamat beras, tapi dia background-nya bukan di situ," ujar Teddy.
"Ada pengamat militer, ada pengamat luar negeri. Dan pengamat-pengamat itu, datanya tidak sesuai fakta. Datanya keliru,” tambahnya.
Ia juga menyinggung bahwa sebagian pengamat telah lama aktif membangun opini publik bahkan sebelum Presiden Prabowo Subianto menjabat.
“Dari sebagian besar, pengamat-pengamat itu adalah pengamat-pengamat yang sejak dulu sudah berusaha memengaruhi warga, membentuk opini publik. Bahkan sejak Pak Prabowo belum menjadi presiden. Jadi pengamat-pengamat itu sudah memengaruhi warga,” ucapnya.
Meski demikian, Teddy menyebut tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Presiden tetap tinggi yang menurutnya menunjukkan publik tidak sepenuhnya terpengaruh oleh opini yang berkembang.
“Tapi faktanya apa? Faktanya, lebih dari 96 juta warga lebih percaya Pak Prabowo. Tidak percaya mereka. Nah, itu adalah bukti nyata kepercayaan publik. Bukan suatu asumsi,” tukasnya.
Di sisi lain, Teddy menegaskan bahwa perbedaan pandangan tetap menjadi bagian dari demokrasi namun ia mengingatkan agar setiap kritik disampaikan secara bijak dan tidak menimbulkan keresahan.
“Jadi, saya kira boleh kita berbeda pandangan, boleh berbeda pendapat, silakan beri kritik. Tapi jangan sampai kita memberi statement yang mengarah pada kecemasan. Membuat orang cemas terhadap negeri ini. Semuanya stabil, semuanya terkendali. Dan mari kita sama-sama untuk mencapai yang terbaik ke depan,” kuncinya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok