Berita, Nasional

Dandhy Laksono Klarifikasi Asal-Usul Dana Film Pesta Babi: Sebut Hasil Patungan dan Gotong Royong Koalisi Sipil

Repelita.id

20 May 2026 16:27 WIB

Dandhy Laksono Klarifikasi Asal-Usul Dana Film Pesta Babi: Sebut Hasil Patungan dan Gotong Royong Koalisi Sipil
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Sutradara tersohor Dandhy Laksono akhirnya memberikan klarifikasi terbuka guna membedah polemik seputar muasal kucuran dana pembuatan film dokumenter Pesta Babi yang belakangan ini menyita perhatian publik.

Pernyataan bersubstansi jawaban tersebut disebarluaskan oleh sang sineas melalui sebuah unggahan pada akun jejaring sosial Instagram pribadinya @dandhy-laksono pada hari Rabu (20/5/2026).

ADVERTISEMENT

Dalam kiriman digitalnya itu, Dandhy Laksono menampilkan visualisasi berupa kolase video potongan konferensi pers KSAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak disandingkan bersama rekaman visual dirinya saat menghadiri sebuah siniar.

Melalui takarir pendukung, ia meluruskan persepsi masyarakat dengan menyatakan bahwa rekaman klarifikasinya tersebut sejatinya tidak dibuat secara khusus untuk menanggapi ucapan sang jenderal bintang empat.

“Sebenarnya saya gak sedang menjawab KSAD. Saya menjawab Pemimpin Redaksi Tribun Pekanbaru, Erwin Adrian,” kata Dandhy, dikutip Rabu (20/5/2026).

Pada bagian documentation siniar tersebut, jurnalis senior Erwin Adrian tampak melayangkan cecaran pertanyaan yang identik dengan kegusaran Maruli Simanjuntak perihal sumber kapital di balik layar.

Menanggapi pertanyaan sensitif itu, pendiri rumah produksi Watchdoc tersebut melontarkan jawaban penutup yang bernada kelakar di hadapan pewawancara.

“Pokoknya ada. Ya kan? Saya berhak untuk ngomong, pokoknya ada. Karena saya nggak mempertanggungjawabkan pajak,” jawab Dandhy, berseloroh.

Lebih lanjut, Dandhy Laksono justru melempar kritik balik seraya mempertanyakan landasan psikologis masyarakat sipil yang dipandang terlampau menaruh curiga pada pergerakan komunitas independen.

Ia menilai ada anomali sosial di mana publik terkesan abai terhadap aliran dana raksasa yang bersirkulasi di lingkaran kekuasaan politik murni.

“Lebih bener saya ngomong pokoknya ada, tapi orang justru lebih curious dengan inisiatif-inisiatif sipil seperti ini, daripada darimana sih duit Capres untuk Pemilu?” ujarnya.

Ia juga mengaitkannya dengan ongkos promosi jabatan di lingkungan aparat.

“Dari mana sih duit Parpol bisa bagi-bagi sembako, bisa bikin konser gede? Dari mana duit jenderal polisi dan tentara ketika dia mau promosi jabatan?” tambahnya.

Sineas ini memaparkan bahwa marwah utama dari sebuah produk jurnalistik terletak pada transparansi penuh mengenai akuntabilitas narasumber maupun penyokong dana pergerakan.

Hal itu krusial agar penonton dapat menilai independensi karya.

“Karena dari sana publik bisa menilai, apakah itu karya independen apa tidak. Di film Pesta Babi, setelah judul Pesta Babi, dan semua nama orangnya jelas, teman-teman bisa melihat logo-logo yang ada di poster film. Itulah para kolaborator,” jelasnya.

Ia menjabarkan skema urunan modal yang dijalankan bersama jejaring LSM.

“Jadi itulah lembaga-lembaga yang patungan, untuk membiayai film ini,” sambungnya.

Dandhy Laksono memberikan garansi moral bahwa seluruh elemen pekerja kreatif yang mendedikasikan diri dalam proyek Pesta Babi tidak menerima sepeser pun imbalan jasa material.

Seluruh kru melepaskan hak honorarium demi nilai perjuangan sinema.

“Kami semua yang bekerja di situ, saya sebagai sutradara, Bang Cypri sutradara, para produser, para director of photography, videografer, itu nggak ada yang dibayar,” imbuhnya.

Sebagai analogi kerja, ia mencontohkan pola sumbangsih yang diterapkan oleh institusi Watchdoc selaku produsen eksekutif layar lebar tersebut.

Lembaga non-profit tersebut menyokong kebutuhan teknis operasional di lapangan.

“Jadi misalnya Watchdoc, itu lembaga kecil, dia nggak punya duit. Dia menyumbang dalam bentuk kamera dan cameraman. Jadi itulah urunannya, dalam bentuk orang dan alat. Bukan dalam bentuk duit,” paparnya.

Sementara untuk membiayai pos akomodasi serta tiket penerbangan, anggaran ditutupi oleh saku kolaborator yang memiliki kelonggaran finansial secara sukarela.

“Teman-teman yang punya duit, dia nyumbang transportnya. Tapi nggak ada honor. Jadi kami semua benar-benar mengeerjakan ini dengan gotong royong, dengan patungan, dan kami percaya bahwa, usaha ini justru akan lebih membuat filmya passionate,” pungkasnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung