Repelita Bandung - Fluktuasi nilai tukar mata uang global yang memicu depresiasi mata uang lokal kini menjadi sorotan tajam karena dampaknya dinilai merembet langsung ke sektor kehidupan masyarakat bawah di pedesaan.
Pemerhati kebijakan publik, Syafril Sjofyan, mengkritik narasi pejabat yang terkesan menyederhanakan masalah dengan dalih komoditas global tidak bersentuhan langsung dengan dompet warga kecil.
ADVERTISEMENT
Padahal, lonjakan harga bahan baku impor seperti pupuk, pakan ternak, dan bahan bakar secara otomatis melambungkan biaya operasional pertanian serta logistik sembako di pasar tradisional.
"orang desa tidak punya dolar"
Ungkapan populis tersebut dinilai justru dapat mengikis kepercayaan publik, terutama kelompok masyarakat menengah perkotaan yang kini mulai terhimpit oleh beban cicilan dan inflasi barang pokok.
Sentimen negatif dari kalangan pelaku usaha dan pengamat ekonomi dikhawatirkan dapat memicu ketidakstabilan sosial-politik jika pemerintah dianggap mengabaikan realitas kesulitan ekonomi di lapangan.
Melalui rilis tertulis pada tanggal 17 Mei 2026, ditegaskan bahwa fondasi kepemimpinan nasional saat ini sangat diuji oleh kemampuannya dalam menjaga keterjangkauan harga pangan, lapangan kerja, serta kestabilan daya beli rakyat secara nyata.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok