Repelita Jakarta - Kebangkitan gelombang demonstrasi mahasiswa yang kembali marak menyuarakan kritik terhadap jalannya pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mendapat perhatian serius dari pengamat bidang pertahanan dan hubungan internasional, Connie Rahakundini Bakrie.
Pandangan kritis tersebut disampaikan secara terbuka oleh Connie Rahakundini Bakrie dalam perbincangan podcast yang merujuk pada tayangan YouTube dengan judul Teddy Terlalu Kuat yang diunggah pada November 2026.
ADVERTISEMENT
Dalam diskusi itu, Connie menilai bahwa aksi turun ke jalan yang dilakukan kalangan kampus bukanlah gerakan tanpa alasan, melainkan akumulasi dari berbagai tekanan ekonomi serta ketidakpuasan publik terhadap pengelolaan negara.
Ia menyoroti ketimpangan anggaran yang memicu kemarahan mahasiswa, salah satunya terkait pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai tidak sebanding dengan nasib guru honorer bergaji minim.
Menurut Connie, masyarakat Indonesia sejatinya berpolitik secara santun, namun memiliki batas kesabaran apabila aspirasi para guru besar, ilmuwan, dan rakyat terus diabaikan oleh pemerintah.
Ia juga menyayangkan sikap pemerintah yang dinilainya terlalu reaktif dan kerap melabeli gerakan mahasiswa dengan tuduhan ditunggangi pihak tertentu daripada mendengarkan substansi keluhan mereka.
Selain persoalan kebijakan ekonomi, Connie turut mengkritisi besarnya pengaruh Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya di lingkar terdalam kepresidenan yang disebutnya bertindak layaknya tutup botol penyumbat arus informasi.
Ia mengungkapkan banyak keluhan dari berbagai kalangan, termasuk di lingkungan ring satu istana, mengenai tertutupnya saluran komunikasi menuju presiden akibat dominasi figur tersebut.
Connie pun menyarankan agar Teddy mengambil waktu libur guna menempuh pendidikan doktoralnya secara benar sekaligus membuka ruang bagi tokoh senior seperti Sufmi Dasco Ahmad dan Sjafrie Sjamsoeddin untuk memberi masukan kepada presiden.
"Pak Prabowo itu presiden, begitu terlalu banyak orang bicara bahwa Teddy itu adalah jadi katup ya kan yang menghalangi gitu kan atau tutup botol yang menghalangi air masuk ke botol itu gitu informasi masuk ke situ ya suruh libur aja dulu gitu," ujar Connie Rahakundini Bakrie.
Lebih lanjut, Connie mengingatkan bahaya militerisme yang merambah ranah sipil, seperti pelibatan aparat dalam pengelolaan dapur umum hingga program Koperasi Desa Merah Putih yang dinilai memicu keresahan masyarakat.
Ia juga menyoroti melemahnya nilai tukar rupiah, keluarnya modal asing, serta krisis kepercayaan publik yang dapat memicu eskalasi gerakan sosial di dunia nyata maupun dunia maya apabila tidak segera ditangani dengan empati.
Di sisi lain, Connie mengapresiasi sikap PDI Perjuangan di bawah kepemimpinan Megawati Soekarnoputri yang memilih tetap berada di luar gerbong kekuasaan sebagai kekuatan penyeimbang demi menjaga sehatnya iklim demokrasi.
Menutup perbincangannya, Connie berpesan kepada seluruh mahasiswa agar tetap berani menyuarakan kebenaran serta menjaga kewarasan bernegara tanpa mudah dipecah belah oleh narasi tandingan.
"Adik-adik mahasiswa teruslah bergerak dan mengikuti suara kebenaran karena negara ini betul-betul sedang dalam posisi tidak ada yang berani bersuara, tidak ada yang berani menyuarakan apa kewarasan dan itu yang mesti dijaga," pungkas Connie Rahakundini Bakrie.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok