Repelita Jakarta - Gelombang pembelaan moral mengalir deras bagi Nadiem Makarim pasca-pembacaan berkas tuntutan pidana berat yang kini tengah menyita perhatian publik tanah air.
Dua selebritas muda berprestasi Cinta Laura Kiehl bersama Maudy Ayunda secara serentak menyuarakan keprihatinan mendalam atas iklim birokrasi yang dinilai mengancam idealisme generasi baru.
ADVERTISEMENT
Melalui saluran komunikasi digital pribadinya Cinta Laura Kiehl melemparkan kritik tajam seputar fenomena destruktif di mana figur progresif kerap kali bertumbangan akibat benturan kepentingan sistemik.
“18 tahun. Itu tuntutan jaksa buat seseorang yang udah ngabisin waktu bertahun-tahun mencoba memajukan negara ini,” tulis Cinta Laura dalam unggahannya.
Artis berdarah campuran ini menegaskan esensi problem ini melampaui sekat preferensi haluan politik melainkan sebuah pesan buruk bagi kesiapan mental intelektual muda dalam menatap masa depan bangsa.
Menurut kalkulasinya rentetan kriminalisasi terhadap para pembawa pembaruan justru akan memicu eksodus besar-biasa talenta terbaik domestik untuk berkarier di luar negeri dibanding memperkuat jajaran eksekutif.
“Indonesia itu punya pola yang diam-diam menghancurkan orang-orang pinter, kompeten, dan punya niat tulus masuk ke pemerintahan,” lanjutnya.
Dalam ulasan panjangnya wanita lulusan universitas luar negeri ini juga meratapi rontoknya motivasi anak muda idealis yang selama ini digadang-gadang menjadi motor penggerak reformasi birokrasi.
Ia mempertanyakan jaminan keselamatan serta perlindungan hukum dari negara apabila anak bangsa dipaksa menyaksikan langsung risiko yudisial yang teramat mengerikan bagi para inovator korps pemerintahan.
“Siapa juga yang mau kalau mereka ngelihat langsung kejadian kayak gini di depan mata?” tulisnya lagi.
Cinta berpandangan jikalau iklim kekuasaan masih didominasi intrik yang tidak sehat maka segala rupa terobosan dari ekosistem digital maupun industri kreatif mustahil mampu mendongkrak peradaban nasional.
Langkah pembelaan moral senada sebelumnya telah disuarakan oleh Maudy Ayunda hingga memantik perhatian luas dan memicu perdebatan sengit di berbagai platform lini masa digital.
Bagi sebagian besar netizen manifesto keprihatinan dari dua ikon pemuda ini dianggap sangat presisi dalam mewakili kecemasan kolektif generasi milenial terhadap tatanan hukum konvensional.
Sosok Nadiem Makarim sendiri melekat kuat sebagai pelopor transformasi digital sektor transportasi lewat bendera Gojek sebelum akhirnya dipanggil mengabdi mengurusi sistem pendidikan nasional.
Pernyataan bersuara lantang dari Cinta Laura dipandang para pengamat bukan sekadar bentuk empati buta melainkan sebuah alarm keras bagi ketahanan masa depan kepemimpinan di Indonesia.
“Ini momen yang sedih banget buat Indonesia,” tulisnya.
Ia menutup argumentasinya dengan kesimpulan pahit bahwasanya republik ini dinilai belum sepenuhnya ramah serta siap memayungi keselamatan para pemikir visioner yang mencoba merombak tatanan usang.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok