Budiman Sudjatmiko Lari Lewat Pintu Belakang, Nusron-Sudaryono Dievakuasi Polisi saat Dikepung Mahasiswa UGM
Repelita [Jakarta] - Agenda diskusi publik di Universitas Gadjah Mada berakhir dalam situasi yang sangat mencekam pada Senin malam.
ADVERTISEMENT
Kegiatan bertema Pancasila tersebut mendadak kacau ketika mahasiswa melakukan aksi protes terhadap kehadiran jajaran pejabat Kabinet Merah Putih.
Budiman Sudjatmiko memilih untuk segera meninggalkan area diskusi melalui jalur pintu belakang untuk menghindari massa yang semakin merangsek.
Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan itu tampak berupaya mengamankan diri di tengah tekanan dari Serikat Mahasiswa UGM.
Sementara itu, Nusron Wahid dan Sudaryono sempat mencoba menenangkan keadaan dengan berdialog langsung di hadapan para pengunjuk rasa.
Namun, eskalasi situasi yang semakin tidak kondusif memaksa aparat kepolisian untuk segera turun tangan melakukan evakuasi darurat.
Kedua pejabat tersebut akhirnya dibawa pergi menggunakan kendaraan patroli dengan pengawalan ketat petugas untuk menjamin keamanan mereka.
Sheron Adam Funay selaku Ketua SEMA UGM menegaskan bahwa kehadiran para pejabat tersebut dianggap tidak pantas untuk membahas nilai-nilai Pancasila.
Ia menilai pemerintah saat ini telah gagal merespons berbagai tuntutan rakyat yang telah berjuang di jalanan dalam waktu lama.
"Di kala masyarakat sudah terlalu sesak dengan kebodohan pemerintah dalam menangani berbagai permasalahan yang terjadi di negeri ini. Rakyat di berbagai kota sudah turun ke jalan, berteriak dengan serenteng tuntutannya, tapi di mana pemerintah saat itu?," ujar Sheron pada Selasa (16/6).
Sheron menyampaikan kekecewaan mendalam atas sikap pemerintah yang dinilai lebih memilih membungkam suara kritis melalui tindakan kriminalisasi.
"Terhinalah mereka ketika berbicara mengenai nilai-nilai Pancasila di tengah kondisi suara rakyat dibungkam, dikriminalisasi, dan kritik dianggap gangguan," tegasnya.
Ia pun menyoroti pengeluaran negara yang dinilai tidak efisien dan cenderung berfoya-foya di tengah jeritan ekonomi masyarakat bawah.
Baginya, anggaran negara seharusnya difokuskan pada perbaikan sistem kesehatan, pendidikan, serta subsidi bahan bakar minyak bagi warga.
Pemerintahan Prabowo-Gibran disorot tajam karena dianggap mengabaikan realitas sosial demi menjalankan program-program yang dinilai minim manfaat bagi rakyat.
"Pertanyaannya, siapa yang sebenarnya rezim layani? Cita-cita Pancasila atau cita-cita untuk berkuasa?," pungkasnya.(*).
Editor: 91224 R-ID Elok