Repelita Jakarta - Dinamika perpolitikan tanah air menyongsong helatan Pemilu 2029 dinilai masih bergerak sangat fleksibel oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Pro Jokowi (PROJO) Budi Arie Setiadi.
Budi Arie Setiadi memandang bahwa beragam peluang politik, termasuk potensi duet kembali Prabowo Subianto bersama Gibran Rakabuming Raka, tetap terbuka lebar.
ADVERTISEMENT
Pandangan tersebut diutarakan saat menanggapi pertanyaan seputar peluang kembalinya pasangan Prabowo-Gibran dalam kontestasi pemilihan presiden pada 2029 mendatang.
Menurut penilaiannya, pembahasan mengenai susunan kekuatan politik lima tahun ke depan masih terlalu dini untuk dipastikan saat ini.
"Semuanya masih mungkin menurut saya. Kalau saya bilang, kartunya masih dikocok, belum dibagi," kata Budi Arie dalam perbincangan di kanal YouTube Henri Satrio Official dan Rujak Politik Channel, dikutip pada Selasa (15/9/2026).
Mantan Menteri Koperasi tersebut berpendapat bahwa pergerakan peta politik nasional tidak dapat dimaknai secara kaku atau sempit.
Berbagai ragam kepentingan akan terus bertransformasi mengikuti dinamika roda pemerintahan, partai politik, hingga momentum mendekati Pemilu 2029.
Oleh karena itu, dirinya enggan memberikan kepastian sejak dini mengenai poros koalisi maupun pasangan calon yang akan terbentuk kelak.
Jarak waktu yang masih cukup panjang menuju hari pemungutan suara membuat pergeseran konfigurasi politik sangat mungkin terjadi.
Pernyataan ini mencuat di tengah maraknya spekulasi publik mengenai arah pergerakan kelompok pendukung Presiden ke-7 RI Joko Widodo serta kabinet Prabowo-Gibran.
Budi Arie Setiadi sebelumnya sempat menjadi sorotan publik usai melontarkan pandangan terkait dinamika politik dan wacana percepatan pemilu.
Namun dalam konteks Pilpres 2029, dirinya kembali menegaskan bahwa belum ada struktur politik yang dapat dikategorikan final.
Dalam sesi wawancara yang sama, ia menampik tudingan bahwa keberadaannya di dalam Kabinet Merah Putih bertujuan membawa misi khusus mengawal agenda politik Gibran Rakabuming Raka.
Ia menegaskan bahwa Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka merupakan dwitunggal yang meraih mandat resmi rakyat melalui ajang Pemilu 2024.
Atas dasar hal tersebut, posisi politik keduanya di dalam struktur pemerintahan dipandang tidak sepantasnya dipisahkan secara parsial.
"Pak Prabowo dan Mas Gibran ini dipilih dalam satu paket," ujar Budi Arie.
Berdasarkan pertimbangan itu, Budi Arie Setiadi menilai keliru persepsi yang menganggap perannya di birokrasi sekadar untuk membentengi kepentingan pribadi Gibran.
Ia menekankan bahwa fokus utama yang wajib dikawal bersama adalah keberlanjutan roda kepemimpinan nasional secara utuh.
"Menjaga pemerintahan Prabowo-Gibran," katanya.
Ia turut mengimbau masyarakat luas agar tidak gampang terpengaruh oleh isu atau narasi yang menghembuskan perselisihan antara Prabowo dan Gibran.
Sinergi antara Presiden dan Wakil Presiden dinilai harus senantiasa dipahami dalam kerangka amanat pemilih pada Pemilu 2024.
Menurutnya, konsistensi dan stabilitas roda pemerintahan jauh lebih utama dibanding memperkeruh suasana lewat spekulasi persaingan politik internal.
Guna menyikapi berbagai informasi yang berkembang pesat, publik diminta untuk tetap bersikap kritis dan bijak dalam menyaring isu.
Budi Arie Setiadi meyakini bahwa peta persaingan menuju tahun 2029 masih akan diwarnai banyak pergeseran strategis.
Dengan demikian, seluruh potensi mengenai komposisi pasangan calon maupun peta koalisi partai belum bisa dipastikan hari ini.
"Kartunya masih dikocok, belum dibagi," kata dia.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok