Berita, Nasional

Budayawan Mohamad Sobary Kritik Keras Jokowi Dan Singgung Kapasitas Gibran Rakabuming Raka

Repelita.id

29 July 2026 17:36 WIB

Budayawan Mohamad Sobary Kritik Keras Jokowi Dan Singgung Kapasitas Gibran Rakabuming Raka
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Budayawan senior Mohamad Sobary melancarkan kritik tajam terhadap metamorfosis karakter mantan Presiden ketujuh Republik Indonesia Joko Widodo.

Perubahan tabiat kekuasaan serta ambisi politik yang kian membesar turut disorot secara terbuka dalam dinamika perbincangan publik terkini.

ADVERTISEMENT

Sorotan tersebut mencakup polemik keabsahan dokumen akademik yang kembali menghangat dan belum menunjukkan titik penyelesaian tuntas.

"Jokowi tidak mau kalah. Meskipun sebenarnya nalar kita mengatakan tidak mungkin ijazah ini asli," ujar Sobary.

Tekanan bertubi-tubi dari berbagai elemen masyarakat dinilai membuat yang bersangkutan memilih bertahan di tengah arus kritik keras.

"Musuhnya Jokowi itu berlapis-lapis, tuntutan yang berlapis-lapis. Jokowi tidak mau kalah," katanya.

Transformasi status sosial masa lalu ditarik sebagai perbandingan untuk melihat kontrasnya kondisi kehidupan sebelum memegang kendali kekuasaan tertinggi negara.

"Duit punya dan ini sesuatu yang dilapis-lapis. Kalau Jokowi adalah Jokowi Wong Deso, mari kita tarik Jokowi sebagai orang pinggir kali. Ya otomatis miskin," ujarnya.

Keterbatasan masa lalu dipandang membentuk pola lingkungan kultural tertentu sebelum akhirnya menduduki kursi kepemimpinan nasional.

"Orang pinggir kali hidup dalam kelas sosial semacam itu. Sekolahnya keteter semacam itu, segalanya parah," lanjut Sobary.

Lonjakan kekayaan material serta lamanya masa jabatan mengubah perangai dasar tersebut menjadi kekuatan hegemonik yang menakutkan.

"Tapi dia kan tidak seperti itu, dia sudah berubah menjadi suatu monster yang sangat menakutkan," imbuhnya.

Gejala kejiwaan kekuasaan yang berlebihan atau megalomania dituding turut mewarnai perjalanan rezim pemerintahan sebelumnya.

"Punya duit, pernah berkuasa, pernah memiliki ambisi sangat besar. Pernah merasa dirinya megalomania. Aku orang besar," katanya.

Penampilan kesederhanaan di ruang publik dinilai hanya sebagai strategi pencitraan di tengah gelora hasrat otoritas yang menggebu.

"Tapi ditampilkan dalam wujud orang kecil-orang kecil, saya dihina-sehina-hinanya, ya modal seperti itu sosok yang tidak begitu jelas," ujarnya.

"Anda megalomania yang berlebih-lebihan, nampak pun megalomania itu. Bukan dalam tingkah laku dia, tapi megalomania dalam fenomena-fenomena-fenomena lapangan," sambung Sobary.

Kelanjutan ambisi politik tersebut kian nyata tatkala suksesi kepemimpinan mengantarkan sang buah hati menduduki posisi orang nomor dua negeri ini.

"Maka ketika anaknya menjadi Wapres dan menempuh segala cara. Oh dituruti megalomania ini. Hasrat berkuasa yang menggelega itu. Itu dituruti semua," katanya.

Kondisi psikologis tersebut diklaim mengaburkan esensi jati diri asli serta melupakan akar kehidupan masa lalunya.

"Dan itu membuat dia hilang dari dasar-dasar dirinya, dia lupa siapa sebenarnya dirinya," ujarnya.

Lemahnya fondasi literasi formal turut diseret sebagai akar penyebab hilangnya kesadaran diri di tengah pusaran kekuasaan.

"Nah lupa diri semacam itu tanda memang pendidikan tidak bagus," cetusnya.

Kritik pedas turut dialamatkan kepada Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ihwal kapasitas intelektual dalam memimpin negara.

Respons sang wakil presiden pasca pemilihan umum terkait cibiran publik dinilai mengonfirmasi rendahnya kualitas kepemimpinan formal.

"Anaknya itu kan tidak tahu bahwa dia bodoh. Tempo hari ingat sesudah Pilpres dia menepuk dada. Beberapa hari yang lalu saya dianggap pelonga-pelongo. Terus saya bilang, emang kamu sekarang tidak pelonga-pelongo? Memang sesudah kau menjadi wakil presiden kau tidak pelonga-pelongo? Kau tetap pelonga-pelongo," tandas Sobary.

Pergantian jabatan struktural tinggi dipastikan tidak akan mampu mengubah esensi kapasitas berpikir seseorang yang mendasar.

"Orang yang berpikir tentang kapasitas akademik tetap kau pelonga-pelongo. Biar kau jadi apapun kau pelonga-pelongo. Tidak akan berubah," ujarnya.

"Ketololan tetap ketololan. Tidak berubah. Banyak Bung di Republik ini kalau kita berjalan di jalan gitu untuk mencari orang yang diatasnya Wapres," pungkasnya.(*).

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung