Repelita [Jakarta] - Otoritas Korea Selatan membeberkan bahwa pihak Indonesia sempat mengambil langkah untuk memediasi ruang dialog diplomasi antara Seoul dan Pyongyang.
Namun demikian upaya diplomasi tersebut menemui jalan buntu setelah pemerintah Korea Utara memberikan penolakan terhadap tawaran perundingan yang diprakarsai lewat jalur Indonesia.
ADVERTISEMENT
Keterangan tertulis mengenai hal itu diutarakan oleh Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Hyun kepada awak media di Seoul.
Cho menyebutkan bahwa celah untuk merajut kembali pembicaraan multilateral bersama rezim Korea Utara sejauh ini masih terbilang sangat minim.
"Indonesia telah mengatur pembicaraan tersebut, tetapi Korea Utara menolaknya," ujar Cho.
Ia menambahkan situasi hubungan bilateral antar-Korea saat ini belum mengindikasikan sinyal positif yang memungkinkan digelarnya kembali meja negosiasi.
Atas kondisi tersebut pemerintah Korea Selatan menganggap peluang diplomasi bersama Pyongyang masih membentur tembok tebal.
Pernyataan Menlu Cho mendadak menyita perhatian lantaran mengemuka tak lama usai Presiden Prabowo Subianto menyuarakan kesediaan Indonesia menjembatani komunikasi kedua negara.
Saat menggelar agenda pertemuan bersama jajaran Kadin Indonesia di Istana Negara, Prabowo membeberkan dialognya dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung.
Ia menyebut Lee Jae Myung sempat menanyakan kesiapan dirinya melawat ke Pyongyang demi meredakan ketegangan politik kawasan tersebut.
Prabowo menegaskan komitmen Indonesia untuk terus berkontribusi menciptakan perdamaian kawasan lewat jalur dialog proaktif jika disepakati bersama.
Sikap pimpinan negara itu dinilai sejalan dengan garis diplomasi bebas aktif yang konsisten diusung Indonesia dalam merespons konflik global.
Meski demikian pengakuan resmi Seoul menandaskan bahwa terobosan awal yang dirintis Indonesia belum mendapat sambutan hangat dari pihak Korea Utara.
Sikap dingin Pyongyang mencerminkan betapa rumitnya dinamika politik kedua belah pihak sehingga prospek dialog dalam waktu dekat diprediksi masih sulit terealisasi.
Kendati mengalami kendala, Indonesia tetap dipandang memiliki posisi strategis mengingat hubungan diplomatik baik yang terjalin dengan kedua belah pihak. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok