Repelita Washington - Babak baru dalam proses investigasi yang dijalankan oleh parlemen Amerika Serikat terkait rekam jejak kriminal mendiang Jeffrey Epstein resmi bergulir menyusul munculnya kesaksian tertutup dari mantan asisten pribadinya.
Dalam agenda dengar pendapat yang digelar secara konfidensial di kompleks legislatif Capitol Hill pada pekan ini, sosok bernama Sarah Kellen melayangkan tuduhan serius terhadap tiga figur pria atas dugaan tindakan kekerasan seksual.
ADVERTISEMENT
Informasi mengenai jalannya pemeriksaan tersebut dikonfirmasi langsung oleh James Comer selaku Ketua Komite Pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat pasca-agenda wawancara yang berlangsung hari Kamis waktu setempat.
Berdasarkan data yang dihimpun dari dokumen pelaporan internal, tiga identitas yang terseret dalam kesaksian krusial itu meliputi seorang penata rambut papan atas, mantan pejabat daerah, hingga fotografer industri mode ternama.
Nama mendiang Patrick Demarchelier yang dikenal luas sebagai penangkap gambar pribadi kepercayaan mendiang Lady Diana Spencer turut menjadi salah satu nama yang masuk dalam daftar pernyataan sang mantan asisten.
Berbagai tudingan miring yang disampaikan mengindikasikan adanya tindakan asusila berupa pelecehan fisik di area kamar hotel saat agenda perjalanan dinas, hingga tindakan tidak senonoh memperlihatkan organ intim secara sengaja.
Merespons gelombang tuduhan tersebut, perwakilan hukum dari pihak penata rambut selebriti langsung melayangkan bantahan resmi dan menegaskan kliennya tidak pernah terlibat dalam aktivitas pelanggaran hukum apa pun.
“Tuan Fekkai tidak pernah menyalahgunakan siapa pun. Dia tidak mengetahui kebejatan maupun perdagangan manusia Epstein,” kata Herr dalam pernyataannya.
Di sisi lain, mantan Wali Kota Miami Beach, Philip Levine, juga sempat memberikan klarifikasi terpisah bahwa interaksi dirinya dengan sang miliarder sangat terbatas dan ia sangat menyesali adanya relasi sosial masa lalu tersebut.
Melalui kesaksiannya, sang mantan asisten juga memaparkan bagaimana posisinya selama bertahun-tahun telah menjadi objek manipulasi psikologis serta target eksploitasi seksual yang sistematis oleh mendiang bosnya.
“Ia merayu saya, menyiksa saya secara seksual dan psikologis, mengendalikan, manipulatf, dan mendominasi saya,” kata Kellen dalam pernyataan pembukanya kepada anggota parlemen.
Meskipun profil Kellen sempat dicurigai oleh aparat penegak hukum pada medio dua dekade silam sebagai salah satu kaki tangan operasional, dirinya berkali-kali membantah tudingan itu dan memosisikan diri sebagai korban murni.
Adanya pengungkapan ini dinilai oleh jajaran legislatif sebagai salah satu kemajuan paling signifikan dalam membongkar teka-teki jaringan perlindungan hukum yang dinikmati oleh pelaku kejahatan seksual kelas kakap tersebut.
Faktor utama yang menyebabkan skandal ini terus memproduksi nama-nama elite baru adalah karakteristik dari pola interaksi sosial sang terpidana yang memang sengaja didesain untuk menyasar kalangan pemegang modal dan kekuasaan global.
Eksistensi jaringan properti mewah mulai dari kawasan Manhattan, kompleks hunian eksklusif di wilayah Florida, hingga pulau privat di area terpencil diduga kuat berfungsi sebagai instrumen operasional penjeratan korban.
Hingga saat ini, proses pelacakan terhadap manifes perjalanan jet pribadi serta pembukaan dokumen pengadilan yang sebelumnya disegel ketat masih terus diupayakan oleh komite parlemen guna memberikan transparansi hukum yang berkeadilan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok