Repelita Jakarta - Bank Indonesia (BI) kembali memberikan penjelasan resmi di tengah kepanikan pasar setelah nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan hebat hingga menyentuh level psikologis Rp17.405 per dolar AS pada awal Mei 2026.
Sebelumnya dalam beberapa pekan terakhir, mata uang domestik juga sudah sempat bergerak melemah di kisaran Rp17.293 per dolar AS yang membuat para pelaku pasar semakin cemas dengan arah perekonomian nasional.
ADVERTISEMENT
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea, mengungkapkan secara blak-blakan bahwa dinamika konflik geopolitik yang berkecamuk di kawasan Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah yang terus tertekan.
Meskipun demikian, ia menilai bahwa pelemahan yang dialami oleh rupiah tersebut masih berada dalam pola yang sama dan sejalan dengan mata uang negara berkembang lainnya di berbagai belahan dunia.
"Pergerakan Rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah hingga saat ini masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya. Philippine Peso melemah sebesar 6,58 persen, Thailand Baht melemah 5,04 persen, India Rupee melemah 4,32 persen, demikian pula dengan Chile Peso (-4,24 persen)," jelas Erwin kepada awak media di Jakarta pada Selasa, 5 Mei 2026.
Lebih lanjut, Erwin menegaskan dengan lantang bahwa pihaknya akan terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai langkah intervensi yang masif di pasar valuta asing.
Upaya yang dimaksud mencakup transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di dalam negeri, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
"Langkah ini dilakukan secara konsisten untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah berlanjutnya tekanan global yang berasal dari luar negeri," tegas Erwin dengan penuh keyakinan.
"Bank Indonesia terus menegaskan komitmen untuk senantiasa hadir di pasar dan mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah," tambahnya sebagai bentuk jaminan kepada publik.
Tekanan yang sangat besar terhadap rupiah sendiri bukan pertama kali terjadi dalam beberapa waktu terakhir karena gejolak global yang terus menerus datang.
Pada awal April 2026, nilai tukar rupiah juga sempat mengalami pelemahan yang cukup signifikan ketika ditutup turun sekitar 70 poin atau 0,41 persen ke posisi Rp17.105 per dolar AS.
Sebelumnya lagi pada akhir Februari 2026, Bank Indonesia sempat mencatat bahwa rupiah dibuka di level Rp16.750 per dolar AS dengan imbal hasil Surat Berharga Negara tenor 10 tahun yang berada di kisaran 6,40 persen.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok