Berita, Ekonomi

Bank Indonesia Batasi Pembelian Dolar Amerika Serikat Menjadi 25 Ribu Demi Redam Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

Repelita.id

22 May 2026 22:58 WIB

Bank Indonesia Batasi Pembelian Dolar Amerika Serikat Menjadi 25 Ribu Demi Redam Pelemahan Nilai Tukar Rupiah
Foto: Istimewa

Repelita Makassar - Otoritas bank sentral bersiap memperketat batasan transaksi penukaran mata uang asing konvensional dengan memangkas kuota pembelian hingga separuh dari ketentuan berjalan untuk meredam laju depresiasi nilai tukar domestik.

Langkah intervensi regulasi ini dijadwalkan mulai berlaku efektif pada awal paruh kedua tahun ini guna menarik kembali posisi mata uang garuda yang saat ini tengah tertekan di zona merah perdagangan internasional.

ADVERTISEMENT

Penurunan pagu batas atas transaksi tanpa agunan dokumen penyerta ini merupakan rangkaian kebijakan lanjutan setelah otoritas moneter sempat menerapkan pemotongan serupa pada awal kuartal kedua tahun berjalan.

“Penyesuaian threshold ini bukan kebijakan yang baru, ini sudah pernah kita lakukan di tahun 2015,” kata Ruth dalam acara Pelatihan Wartawan BI bertajuk Penguatan Kebijakan Valas dan Intermediasi untuk Stabilitas Rupiah dan Pertumbuhan Kredit di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (22/5/2026).

Manajemen pasar keuangan menegaskan bahwa pengetatan batas penukaran valuta asing merupakan instrumen moneter yang lazim digunakan secara fleksibel demi merespons dinamika volatilitas pasar global.

Berdasarkan tinjauan historis, pembatasan ketat terhadap aksi perburuan likuiditas barat terbukti mampu membalikkan arah pergerakan nilai tukar domestik ke level yang jauh lebih kokoh dalam kurun waktu satu tahun pasca pemberlakuan.

“Mudah-mudahan ini bisa menjadi salah satu tools yang membantu penguatan rupiah,” ujarnya.

Penurunan kuota transaksi nontunai yang telah berjalan semenjak April kemarin diklaim sudah memperlihatkan dampak positif berupa penurunan volume perputaran harian modal keluar di pasar spot domestik.

“Jadi kita coba turunkan lagi ke 25 ribu dolar AS per pelaku per bulan dengan harapan trennya akan sama, akan mengurangi kebutuhan pembelian dolar tanpa underlying. Saat ini rata-rata hariannya sekitar 57 juta dolar AS, kita harap ini akan menurun lagi,” terangnya.

Pelemahan tajam mata uang nasional hingga menyentuh titik terendahnya memicu respons cepat dari jajaran eksekutif tertinggi negara melalui penyusunan paket instruksi penyelamatan ekonomi makro.

“Kami persiapkan akan turunkan lagi menjadi 25.000 dolar AS per orang per bulan, sehingga pembelian dolar di atas 25.000 dolar AS harus pakai underlying,” tuturnya pada Selasa (5/5/2026).

Selain memperketat lalu lintas devisa, bank sentral gencar memperluas penggunaan mata uang regional dalam penyelesaian perdagangan bilateral dengan negara mitra utama di kawasan Asia Timur.

“Local currency kita dengan yuan China sangat tinggi, dan sekarang sudah mulai terbentuk pasar domestik, sehingga mengurangi atau melakukan diversifikasi dari dolar, sehingga rupiah bisa menguat,” ujarnya.

Paket taktis pemulihan kurs juga melibatkan aksi intervensi multi-pasar yang menyasar bursa berjangka komoditas internasional di berbagai pusat keuangan dunia mulai dari Asia hingga Amerika.

“Kami membolehkan bank-bank domestik untuk ikut jualan NDF di luar negeri, sehingga pasokannya lebih banyak. Itu akan memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah,” kata Perry.

Guna menahan aksi pelepasan aset portofolio surat utang oleh modal asing, bank sentral mengoptimalkan penerbitan instrumen investasi jangka pendek berkemampuan imbal hasil kompetitif.

Langkah penguatan tersebut ditopang lewat aksi pembelian surat berharga negara di pasar sekunder yang realisasinya telah menembus angka ratusan triliun rupiah berkat kolaborasi bersama otoritas fiskal.

Koordinasi lintas lembaga juga diarahkan untuk menjaga ketersediaan pasokan dana segar di industri perbankan agar tetap berada di atas ambang batas aman pertumbuhan tahunan.

Pengawasan ketat kini turut menyasar korporasi kakap serta lembaga keuangan yang terdeteksi melakukan aktivitas pengadaan likuiditas barat dalam skala besar di luar kebutuhan operasional riil.

Pimpinan tertinggi otoritas moneter meyakini gelombang tekanan terhadap mata uang garuda bersifat temporer karena dipicu oleh siklus musiman repatriasi keuntungan serta beban utang luar negeri.

“Nilai tukar sekarang ini undervalue. Kenapa undervalue? Fundamental kita kuat, pertumbuhan ekonomi sangat tinggi 5,61 persen pada kuartal I 2026, inflasi rendah, kredit juga tumbuh tinggi, cadangan devisa juga kuat. Inilah fundamental yang menunjukkan mestinya rupiah itu akan stabil dan cenderung menguat ke depan,” terang Perry.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung