Berita, Nasional

Bambang Prasodjo Nilai Proyeksi Untung KDMP Rp1,4 M Per Desa Tak Realistis

Repelita.id

25 April 2026 16:58 WIB

Bambang Prasodjo Nilai Proyeksi Untung KDMP Rp1,4 M Per Desa Tak Realistis
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Pengamat sosial Bambang Prasodjo mengkritik keras wacana proyeksi keuntungan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang disebut bisa menghasilkan laba bersih Rp1,4 miliar per tahun untuk setiap desa.

Dalam pernyataannya pada Jumat, 24 April 2026, Bambang Prasodjo menyebut angka tersebut sebagai narasi yang tidak masuk akal dan seperti cerita orang yang sedang "halu".

ADVERTISEMENT

Ia mempertanyakan secara logis bagaimana sebuah desa bisa meraih untung bersih Rp1,4 miliar setahun atau sekitar Rp116 juta per bulan.

Jika margin keuntungan diasumsikan hanya delapan persen saja, maka omzet kotor yang harus dicapai setiap harinya mencapai Rp50 juta.

Bambang Prasodjo mempertanyakan jenis usaha apa yang mampu menghasilkan omzet Rp50 juta per hari di satu desa dengan daya beli masyarakat yang terbatas.

Ia mengingatkan bahwa perputaran uang warga desa pada umumnya bersifat musiman, tergantung pada masa panen atau kiriman dari keluarga yang merantau.

Bambang Prasodjo menilai bahwa para pejabat pembuat kebijakan ini murni tipe pekerja kantoran yang belum pernah merasakan pahitnya menjalankan usaha sungguhan.

Mereka tidak memahami realitas barang yang menumpuk di gudang hingga kedaluwarsa atau kesulitan membayar gaji karyawan saat omzet sedang sepi.

Menurut Bambang Prasodjo, musuh utama dari program ini bukanlah minimarket waralaba melainkan isi kepala para pembuat kebijakan itu sendiri.

Ia menyebut bahwa proyeksi angka ini dibuat oleh pejabat yang seumur hidupnya tidak pernah mengelola bisnis riil di lapangan.

Bambang Prasodjo menegaskan bahwa menjalankan bisnis sangat berbeda dengan sekadar membuat grup WhatsApp yang pesertanya bisa di-add secara paksa.

Ujung-ujungnya, narasi untung miliaran seperti ini hanya menjadi hiburan semu atau "nina bobo" bagi masyarakat bawah menurut pengamatannya.

Ia berharap Indonesia memiliki pemimpin dan pembuat kebijakan yang kakinya berpijak pada tanah serta memahami detail perputaran uang receh di warung tetangga.

Membangun ekonomi desa bukanlah soal seberapa banyak gerai beton yang bisa dibangun dengan dana top-down.

Yang lebih penting adalah seberapa paham pemimpin terhadap denyut nadi dan napas kehidupan warga desa.

Karena jika hanya bermodal hitungan di atas awan, yang akan untung hanyalah pihak yang membangun gedungnya sementara desa tetap jalan di tempat sambil menggigit jari demikian tegas Bambang Prasodjo.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung