Repelita [Jakarta] - Dinamika kontestasi pemilihan jajaran pimpinan tertinggi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menjadi perbincangan hangat di jejaring sosial usai munculnya sorotan terkait mekanisme pemungutan suara menjelang pelaksanaan Muktamar.
Dinamika serta pemetaan peta kekuatan para calon tersebut sebelumnya diunggah oleh akun @djodybukanjodi pada 30 Agustus 2026.
ADVERTISEMENT
"Beberapa jam sebelum Ketua Umum PBNU dipilih, cara memilihnya diubah. Kemudian, ada Paket ketua Dan rais Aam dari Bocor Alus Tempo.
- Paket Istana Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) K.H. Miftachul Akhyar
- Paket Petahana (PBNU) K.H. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) Calon Rais Aam: K.H. Ma'ruf Amin
- PKB K.H. Yusuf Chudlori atau K.H. Abdussalam Shohib K.H. Said Aqil Siroj Geser untuk kronologinya. #MuktamarNU #PBNU #Akuntabilitas #cakimin #pkb" tulis akun @djodybukanjodi.
Perubahan mekanisme pemilihan tersebut memancing beragam tanggapan dari netizen yang membandingkan sistem pemungutan suara di tubuh organisasi kemasyarakatan keagamaan lainnya.
Akun @syabaniamasnyu memberikan pandangannya terkait penerapan sistem tim formatur yang dinilai biasa dalam organisasi kemasyarakatan.
"Padahal di Muhammadiyah, sejak dulu ketum tidak dipilih langsung oleh peserta muktamar. Mereka hanya memilih 13 orang yg menjadi anggota Pengurus pusat, dan yang menentukan siapa menjadi ketua, sekretaris, ketua bidang ya 13 orang itu berdiskusi dan musyarawah. Kenapa hal ini saat dibawa ke NU malah dicurigai?" tulis akun @syabaniamasnyu.
Sementara itu, kritikan mengenai kedekatan para pemuka agama dengan lingkaran kekuasaan disampaikan oleh akun @ahmadsilmarillion.
"Para ulama yang nunut urip kepada penguasa adalah yang menjadi sumber penyakit dalam tubuh NU." tulis akun @ahmadsilmarillion.
Pemilik unggahan utama yakni akun @djodybukanjodi turut memberikan tanggapan balasan atas pandangan tersebut.
"Semoga bukan yg begini yg terpilih" tulis akun @djodybukanjodi.
Penjelasan mengenai istilah mekanisme penentuan kepemimpinan di ormas lain juga ditambahkan oleh akun @ghojengjang.
"Kalau dimuhammadiyah dikatakan 13 formatur" tulis akun @ghojengjang.
Analisis mengenai peta peluang serta manuver kalkulasi politik di dalam komisi Ahwa disampaikan secara terperinci oleh akun @khairilmuchsy.
"Dg ketua Tanfidziah dipilih Ahwa pemenang sudah jelas adl paket istana. Ahwa kurang lebih akan berisi 3 paket (istana, petahana dan PKB). Buat menangin Paket Istana, mrk butuh suara Ahwa PKB, PKB ga akan menang jika maju sendiri dia ngamanin suaranya di PKB bisa masuk dibandingkan di paket petahana. Dg PKB dukung paket istana Cak Imin punya bargaining power ke Prabowo juga. Jadi sudah dipastikan 80% meskipun 9 nama Ahwa blm ada (Ketum PBNU Abdul Hakim/Gus Salam, Rais Aam Miftachul Akhyar/)." tulis akun @khairilmuchsy.
Kondisi perselisihan dan peta rivalitas antar-kubu yang bertanding turut diulas oleh akun @bensanshop.
"Kubu no. 2 rivalnya kubu no.3 (konflik PKB) ditambah ada perselisihan di kepengurusan kemarin dengan kubu no. 1." tulis akun @bensanshop.
Ragam latar belakang dari ketiga opsi kepemimpinan yang ditawarkan kemudian dirangkum oleh akun @ongongwae.
"Komplit tinggal pilih yg mana dari istana = pendukung kekuasaan petahana = murni ormas NU partai = pemain politik praktis" tulis akun @ongongwae.
Perubahan mekanisme penentuan pimpinan tertinggi melalui forum Ahlul Halli wal Aqdi memang terus memicu perdebatan luas mengenai independensi ormas keagamaan dari pengaruh politik praktis.
Mekanisme musyawarah perwakilan tersebut dirancang untuk menjaga kesucian lembaga, meski di sisi lain tetap memunculkan spekulasi terkait perebutan pengaruh antar-faksi di dalam Muktamar.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
View on Threads