Berita, Internasional

ASEAN Mulai Kurangi Ketergantungan pada AS dan Lebih Hati-hati di Tengah Konflik Amerika-Iran

Repelita.id

25 April 2026 20:49 WIB

ASEAN Mulai Kurangi Ketergantungan pada AS dan Lebih Hati-hati di Tengah Konflik Amerika-Iran
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Negara-negara Asia Tenggara kini menunjukkan sikap lebih hati-hati terhadap Amerika Serikat seiring memanasnya konflik antara Washington dan Teheran.

Meskipun sebagian besar anggota ASEAN tetap memilih sikap netral dan tidak ikut campur langsung dalam perselisihan tersebut banyak di antara mereka mulai mengurangi ketergantungan pada kerja sama pertahanan dengan Amerika.

ADVERTISEMENT

Di Indonesia misalnya muncul perbedaan pandangan antar kementerian yang berujung pada penangguhan izin lintas udara militer Amerika di atas Selat Malaka meski sebelumnya sempat ada kesepakatan pertahanan bilateral.

Kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump yang dinilai transaksional dan sulit diprediksi semakin memperlebar jarak antara Amerika Serikat dengan banyak negara di kawasan.

Kepercayaan terhadap Washington pun terus menurun terutama karena Amerika dianggap semakin menjauh dari semangat kerja sama multilateral ASEAN.

Pengaruh Amerika di Asia Tenggara yang sempat menguat melalui kebijakan Pivot to Asia era Presiden Barack Obama serta strategi Indo-Pasifik pada masa pemerintahan Trump pertama dan Joe Biden kini terlihat melemah secara nyata.

Salah satu indikasi jelas adalah minimnya dukungan tegas dari sekutu regional terhadap posisi Amerika dalam konflik Timur Tengah yang sedang berlangsung.

Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan pada akhir Maret 2026 menyatakan dirinya terkejut dengan pecahnya konflik tersebut dan menilai perang itu sebenarnya tidak perlu terjadi.

Ia juga mempertanyakan legalitas tindakan yang diambil serta mengingatkan bahwa selama puluhan tahun Amerika menjadi penopang utama sistem global berbasis Piagam PBB multilateralisme dan kedaulatan negara.

Perubahan sikap kawasan semakin terlihat dari hasil survei State of Southeast Asia 2026 yang dirilis ISEAS-Yusof Ishak Institute pada awal April 2026.

Survei tersebut menunjukkan 52 persen responden lebih memilih berpihak kepada China sementara hanya 48 persen yang masih memilih Amerika Serikat jika harus memilih salah satu.

Di Indonesia angka tersebut bahkan mencapai 80 persen responden yang lebih memilih kedekatan dengan China dibandingkan dengan Amerika Serikat.

Angka serupa tercatat di Malaysia sebesar 68 persen dan di Singapura 66 persen sementara di Filipina hanya 23 persen responden yang cenderung memilih China.

Salah satu faktor pendorong pergeseran ini adalah dampak ekonomi dari konflik di Timur Tengah khususnya gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz.

ASEAN Centre for Energy mencatat bahwa minyak mentah dari Timur Tengah menyumbang 56 persen impor minyak mentah kawasan tahun lalu sehingga lonjakan harga energi menjadi kekhawatiran utama.

Selain itu kebijakan Amerika yang dianggap tidak konsisten mulai dari perang tarif hingga minimnya komitmen jangka panjang di Indo-Pasifik turut menurunkan kepercayaan negara-negara ASEAN.

Di tengah situasi ini banyak negara Asia Tenggara kini aktif memperluas hubungan strategis dengan Jepang Australia India Turki Inggris serta Uni Eropa.

Bagi mereka pilihan tidak lagi terbatas hanya antara Amerika Serikat atau China melainkan menjaga fleksibilitas dan memperkuat kemandirian dalam menentukan arah kebijakan luar negeri.

Pengamat hubungan internasional Dr. Rahul Mishra dari Jawaharlal Nehru University India menilai konflik AS-Israel-Iran menjadi momentum bagi ASEAN untuk meninjau ulang posisi global mereka dan membangun kebijakan yang lebih mandiri.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung