Berita, Internasional

AS Ketakutan! Akui Kekuatan Militer China Setara Washington, Jenderal AS: Tiongkok Ancaman Terbesar

Repelita.id

02 May 2026 21:36 WIB

AS Ketakutan! Akui Kekuatan Militer China Setara Washington, Jenderal AS: Tiongkok Ancaman Terbesar
Foto: Istimewa

Repelita Washington - Amerika Serikat untuk pertama kalinya secara terbuka mengakui bahwa kekuatan militer China kini telah setara dengan Washington, sebuah pernyataan yang mencerminkan kekhawatiran mendalam Pentagon terhadap pesatnya modernisasi angkatan bersenjata Tiongkok.

Pengakuan mengejutkan ini disampaikan oleh perwira tinggi Angkatan Laut AS, Letnan Jenderal Stephen Sklenka, dalam ajang Modern Marine Corps Expo di Washington pada 29 April 2026.

ADVERTISEMENT

Jenderal bintang tiga yang saat ini menjabat sebagai Deputy Commandant for Installations and Logistics tersebut dengan berani menyebut bahwa China bukan lagi sekadar pesaing yang mendekati, melainkan telah menjadi kekuatan yang sejajar atau "peer" dengan AS di berbagai bidang pertahanan.

"China bukan hanya mendekati kita, mereka sudah menjadi negara yang setara dengan Amerika Serikat," tegas Sklenka dalam pidatonya yang mengejutkan banyak kalangan.

Pernyataan ini sekaligus merobek narasi lama Pentagon yang selama bertahun-tahun selalu menggunakan istilah "near-peer" (hampir setara) untuk menggambarkan posisi China di panggung militer global.

Sklenka, yang sebelumnya menjabat sebagai wakil komandan di Komando Indo-Pasifik AS, memaparkan sejumlah data mengkhawatirkan tentang kesenjangan kapabilitas antara kedua negara adidaya tersebut.

Salah satu fakta paling mencolok yang diungkapkannya adalah kemampuan galangan kapal China yang luar biasa, yakni 230 kali lebih besar dibandingkan dengan kapasitas Amerika Serikat.

Angkatan Laut China saat ini mengoperasikan lebih dari 370 kapal perang, sementara armada AS terancam menyusut menjadi hanya 287 kapal dalam waktu dekat.

Selain itu, China dinilai memiliki pabrik pembuatan kapal selam nuklir dan konvensional dengan laju produksi dua kali lipat lebih cepat dari AS.

Tidak hanya di laut, China juga disebut memiliki persediaan rudal balistik dan jelajah dalam jumlah sangat besar yang terus berkembang dengan cepat.

Meskipun memiliki kesenjangan jumlah hulu ledak dengan AS, China disebut memiliki program pengembangan nuklir dengan laju pertumbuhan tercepat di dunia.

Sklenka mengakui bahwa China juga memimpin dalam bidang teknologi generasi berikutnya seperti kecerdasan buatan (AI), sistem drone swarm, serta kemampuan perang kognitif dan persepsi.

"Tiongkok adalah ancaman terbesar kita. China bukan sekadar ancaman terhadap posisi AS sebagai negara adidaya, tetapi ancaman terhadap eksistensi," ujar jenderal tersebut dengan nada khawatir.

Kekhawatiran ini semakin menjadi-jadi setelah AS dan sekutunya melancarkan Operasi "Epic Fury" terhadap Iran pada akhir Februari 2026.

Meskipun Teheran memiliki ekonomi dan basis industri yang jauh lebih lemah, Iran berhasil memberikan perlawanan sengit menggunakan drone dan rudal murah yang merepotkan armada AS.

Sklenka memperingatkan bahwa konflik dengan China yang memiliki kapasitas industri jauh lebih besar akan membuat situasi saat ini di Timur Tengah tampak "sepele" atau "kecil" dibandingkan dengan apa yang mungkin terjadi.

Pengakuan resmi ini muncul saat Pentagon di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump sedang mengajukan anggaran pertahanan raksasa sebesar 1,5 triliun dolar AS untuk tahun fiskal 2027.

Menteri Perang AS Pete Hegseth dalam sidang dengar pendapat di Kongres pada 30 April 2026 juga menyatakan bahwa mencegah China di kawasan Indo-Pasifik adalah prioritas kedua setelah melindungi tanah air Amerika.

"Tugas kami adalah memastikan Beijing melihat kekuatan militer AS yang tidak dapat diragukan lagi, sehingga mereka tidak akan berani melakukan agresi," tegas Hegseth di hadapan Komite Angkatan Bersenjata Senat.

Hegseth juga mengakui bahwa China adalah kebanggaan "pembangunan militer bersejarah", namun tetap memperingatkan bahwa Beijing tidak boleh salah mengartikan niat baik Washington.

Washington sendiri berencana membangun sistem pertahanan rudal canggih bernama "Golden Dome" yang diklaim mampu mencegat rudal hipersonik China dan Rusia.

Namun, Asisten Menteri Pertahanan AS Marc Berkowitz mengakui bahwa saat ini Amerika Serikat sama sekali tidak memiliki pertahanan terhadap senjata hipersonik maupun rudal jelajah canggih.

Para analis menilai bahwa pengakuan berani tentang kesetaraan militer dengan China ini kemungkinan merupakan taktik lobi para jenderal untuk memaksa Kongres menyetujui anggaran pertahanan yang sangat besar di tengah tekanan fiskal yang ketat.

Sklenka sendiri menyoroti kerentanan pangkalan militer AS di kawasan Pasifik yang tidak siap menghadapi serangan gabungan siber, drone, dan rudal dari China.

"Jika perang pecah dengan Tiongkok, bahkan sebelum unit tempur kita meninggalkan pangkalan, mungkin mereka harus menghadapi serangan yang melumpuhkan," pungkasnya.

Pernyataan jenderal AS ini menjadi pengakuan paling blak-blakan dari kalangan militer Barat tentang pergeseran keseimbangan kekuatan global yang semakin menguntungkan Beijing.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung