Berita, Internasional

AS Diguncang Demo Terbesar, Tuntutan Lengser Trump Menguat di Tengah Krisis Perang dan Skandal Epstein Files

Repelita.id

12 April 2026 18:56 WIB

AS Diguncang Demo Terbesar, Tuntutan Lengser Trump Menguat di Tengah Krisis Perang dan Skandal Epstein Files
Foto: Istimewa

Repelita Washington DC - Amerika Serikat kini berada di ambang revolusi setelah demo terbesar sepanjang sejarah melanda berbagai kota besar menuntut Trump lengser.

Akhir pekan lalu, jutaan rakyat Amerika tumpah ruah ke jalan-jalan dalam aksi massa yang belum pernah terjadi sebelumnya di negara adidaya tersebut.

ADVERTISEMENT

Pemicu utama kemarahan publik adalah agresi militer AS-Israel terhadap Iran yang disebut sebagai "perang pesanan" dari Israel.

Dampak perang ini membuat harga minyak di Amerika meroket hingga 100 persen, menghancurkan perekonomian rakyat kecil.

Tokoh Muslim terkemuka di AS, Imam Shamsi Ali, mengungkapkan bahwa kemuakan rakyat sebenarnya sudah menumpuk lama terhadap Trump.

"Kebijakan imigrasi yang tidak manusiawi dan rasisme yang telanjang hanyalah puncak gunung es," ungkap Imam Shamsi Ali kepada fajar.co.id pada Rabu malam (8/4/2026).

Namun, skandal kriminal pelecehan anak "The Epstein Files" yang terbuka lebar ke publik menjadi pemicu ledakan kemarahan massa.

"Presiden Trump ingin menempatkan diri sebagai 'Raja', bertindak sesuka hati tanpa mempedulikan hukum. Wajar jika tema demo saat ini adalah 'No King' (Tolak Kerajaan)!!" tambah Imam.

Imam Shamsi Ali membongkar bahwa di balik serangan ke Iran terdapat ambisi Zionis untuk mewujudkan "The Great Israeli" atau Israel Raya.

"Dorongan utamanya adalah ambisi Zionis untuk mewujudkan 'The Great Israeli' (Israel Raya). Amerika hanya dipakai untuk memenuhi hasrat itu, sementara rakyat Amerika menanggung kerugian ekonomi dan hancurnya citra di mata dunia," tegasnya.

Trump sempat merendahkan peradaban Iran dengan ancaman akan mengembalikan mereka ke "Zaman Batu", namun nyatanya Teheran tidak gentar.

Kekuatan pertahanan Iran dan keberhasilan blokade Selat Hormuz membuat ekonomi global mencekik Amerika hingga Trump terpaksa menerima 10 poin gencatan senjata.

Imam Shamsi Ali memperingatkan bahwa gencatan senjata ini sangat rapuh karena Israel dikenal jarang menepati janji dalam sejarahnya.

"Saya khawatir, begitu Selat Hormuz dibuka dan harga minyak turun, mereka akan kembali menyerang," pungkas Imam Shamsi Ali.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung