Repelita Washington DC - Ancaman terbaru yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada Iran justru memperlihatkan satu hal yang makin sulit dibantah, bahwa Teheran hingga saat ini belum juga bisa dipaksa bertekuk lutut meskipun konflik telah memasuki hari ke-30 sejak dimulai pada 28 Februari 2026.
Trump secara terbuka mengancam akan menghancurkan infrastruktur vital Iran jika kesepakatan tidak segera tercapai dan Selat Hormuz tidak kembali dibuka, dengan pernyataan tersebut ia sampaikan lewat platform Truth Social pada Senin (30/3/2026).
ADVERTISEMENT
“Amerika Serikat sedang melakukan pembicaraan serius dengan rezim baru yang lebih masuk akal untuk mengakhiri operasi militer kami di Iran,” tulis Trump dalam unggahannya.
Namun di balik nada percaya diri itu, pernyataan Trump justru menunjukkan bahwa Amerika belum benar-benar memegang kendali penuh karena hingga kini Iran masih mampu menekan salah satu jalur energi terpenting dunia dan membuat pasar global gelisah.
Trump memperingatkan bahwa jika tidak ada kesepakatan dalam waktu dekat, Amerika Serikat akan mengakhiri kehadirannya di Iran dengan menghancurkan pembangkit listrik, sumur minyak, hingga Pulau Kharg yang menjadi pusat ekspor minyak utama negara itu.
Ia bahkan menyinggung kemungkinan menyerang fasilitas desalinasi yang menjadi bagian penting dari pasokan air bagi masyarakat sipil Iran, sebuah sinyal bahwa Washington mulai melihat tekanan bukan hanya lewat medan tempur tetapi juga melalui penghancuran titik-titik yang menopang ekonomi dan kehidupan sehari-hari.
Tetapi justru di situlah letak kegelisahan Amerika karena meskipun terus digempur selama sebulan penuh, Iran belum kehilangan daya pukulnya dan masih mampu membuat situasi kawasan tetap panas terutama lewat cengkeramannya di Selat Hormuz.
Jalur laut sempit itu bukan sekadar perairan biasa karena sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melintas di sana, sehingga ketika Iran memperketat kontrol di kawasan itu, efeknya langsung terasa ke seluruh dunia dengan harga energi yang bergejolak dan pasar yang bereaksi liar.
Di titik inilah Iran membuat Amerika keringat dingin karena perang ini tidak lagi sekadar soal siapa yang lebih banyak menembakkan rudal, melainkan siapa yang bisa membuat lawannya membayar harga paling mahal.
Trump boleh mengancam akan meratakan Iran, tetapi Teheran justru menunjukkan bahwa mereka masih punya kemampuan untuk mengganggu kepentingan strategis Amerika dan sekutunya, dan selama Selat Hormuz tetap menjadi titik rawan maka tekanan terhadap Washington tidak akan benar-benar hilang.
Situasi makin rumit karena ancaman terhadap jalur pelayaran tidak hanya datang dari Hormuz, mengingat kelompok Houthi yang didukung Iran juga berpotensi memperluas tekanan di Selat Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Jika dua titik ini sama-sama terganggu, dunia bukan hanya menghadapi krisis energi tetapi juga guncangan perdagangan global yang bisa menjalar ke mana-mana, dan semakin lama perang ini berjalan maka semakin besar pula biaya politik dan ekonomi yang harus ditanggung Amerika Serikat.
Trump dalam pernyataannya memang mencoba tampil dominan dengan menyebut langkah keras terhadap Iran sebagai bentuk pembalasan atas kematian tentara Amerika selama puluhan tahun terakhir.
Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa tekanan maksimal belum cukup untuk membuat Iran menyerah, dan perang yang dimulai sejak 28 Februari itu justru memperlihatkan bahwa Iran masih mampu bertahan sambil terus mengirim sinyal bahwa mereka belum habis.
Lebih dari 3.000 orang dilaporkan tewas dalam konflik ini, sementara peluang gencatan senjata masih terlihat samar di tengah perbedaan posisi yang sangat lebar antara kedua pihak yang bertikai.
Karena itu ancaman Trump yang terdengar sangat keras justru bisa dibaca sebagai tanda bahwa Washington belum juga mendapatkan hasil yang diinginkan setelah satu bulan penuh melancarkan operasi militer.
Selama Iran masih bisa mengganggu jalur energi, memperlebar ketegangan kawasan, serta menahan tekanan militer dan ekonomi, Amerika akan terus berada dalam posisi yang tidak sepenuhnya nyaman.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok