Repelita [Bandung] - Pemerhati politik dan kebangsaan, M. Rizal Fadillah, menonjolkan simbolisme kontroversial dalam aksi kunjungan daerah yang melibatkan mantan Presiden Joko Widodo. Insiden penginjakan kepala kerbau di Lampung dinilai sebagai penanda buruk bagi rangkaian safari politik yang dilakukan pascajabatan.
Menurut pengamatan Rizal, narasi undangan masyarakat dalam kunjungan tersebut terkesan janggal dan sarat rekayasa. Kondisi ini memicu penolakan warga di sejumlah titik lokasi yang datang oleh sang mantan pemimpin.
ADVERTISEMENT
Rizal Fadillah menganalisis fenomena ini dengan meminjam metafora mitologi hingga cerita rakyat mengenai sosok manusia di kerbau. Pada gilirannya, simbol tersebut mengalami pergeseran makna dari sekadar ritual adat menjadi personifikasi dari sifat rakus serta minimnya akal sehat.
Ia menulis: "Kepala kerbau yang diinjak tiba-tiba berpindah ke kepala manusia, abracadabra. Mungkin seperti dalam mitologi Yunani manusia berkepala kerbau Minotaur yang buas senang memangsa manusia." Selain itu, ia juga menampilkan figur tersebut dengan karakter Lembu Sura yang digambarkan sebagai sosok yang harus dikalahkan.
Rizal mengkritik gaya kepemimpinan yang dianggap memanipulasi kebudayaan demi menjaga eksistensi politik pribadi. Ia menilai upaya tersebut sebagai bentuk persetujuan terhadap realitas sosial yang sebenarnya terjadi di tengah masyarakat.
Dalam catatan analisisnya, Rizal Fadillah menegaskan: "Kemarin injak kepala kerbau sekarang mengendalikan kerbau. Besok, abracadabra menjadi siluman kepala kerbau." Kritik ini mencerminkan keresahan terhadap perilaku mantan pejabat yang dinilai masih berambisi mengendalikan panggung politik nasional.
Rangkaian kunjungan yang dilakukan oleh partai politik tertentu dipandang sebagai upaya membangun narasi seolah masih mendapat dukungan penuh dari rakyat. Padahal menurutnya, segala sesuatu yang terjadi hanyalah wujud dari massa yang tidak merepresentasikan keinginan masyarakat secara utuh.
Analisis penutup ini menyoroti bagaimana sosok pemimpin ideal seharusnya menjunjung tinggi logika dan integritas moral. Segala bentuk tindakan yang mengabaikan nurani yang dinilai hanya akan membawa dampak buruk bagi citra kebangsaan di mata masyarakat luas. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok