Repelita [Jakarta] - Sorotan tajam dilayangkan oleh politikus senior nasional Amien Rais terhadap perilaku politik mantan Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo melalui sebuah rekaman video singkat yang secara resmi disebarluaskan via platform digital media sosial Instagram pribadinya di tautan https://www.instagram.com/amienraisofficial pada hari Kamis tanggal 4 Juni 2026.
Pendiri Partai Ummat tersebut secara mendalam merefleksikan nilai luhur serta falsafah kebudayaan masyarakat Jawa mengenai arti penting dari sebuah konsistensi moral antara perkataan dengan perbuatan nyata sehari-hari.
ADVERTISEMENT
"Sebagai wong Solo, dia seharusnya paham bahwa berbohong itu watak yang buruk," ujarnya.
Mantan Ketua MPR RI tersebut menilai adanya kontradiksi besar dari sikap politik mantan Wali Kota Surakarta itu setelah tidak lagi menduduki kursi kepemimpinan tertinggi di negara ini.
"Setelah selesai jadi presiden dua periode, kan janjinya mau rakyat biasa dan jadi aktivis lingkungan, tetapi tentu janji tinggal janji," sindirnya.
Ia menilai bahwa inkonsistensi terhadap komitmen awal yang diucapkan di hadapan publik tersebut timbul akibat adanya pengaruh dari sebuah ambisi besar tehadap lingkaran kekuasaan yang tidak kunjung usai.
"Syahwat kekuasaannya menyebabkan dirinya menjadi manusia megalomaniak yang tidak pernah puas dengan karunia yang Maha Esa dan Maha Kuasa," katanya.
Ungkapan kekecewaan mendalam dari sang tokoh gaek reformasi itu ditandai dengan penyematan istilah yang sangat menohok terkait integritas pribadi dari sang mantan kepala negara.
"Mas Kowi memang manusia lamis, alias manusia hipokrit, omongannya tidak bisa dipegang, tidak bisa dipercaya," tegasnya.
Ulasan politik tersebut diawali dengan penjelasan mengenai hukum perubahan zaman atau sunnatullah demi menegaskan bahwa kejayaan seorang manusia di dunia fana memiliki batasan waktu yang mutlak.
"Sunnatullah, atau law nature, atau hukum alam, itu pada prinsipnya mengatakan bahwa seluruh eksistensi atau wujud apapun di dunia yang fana ini, pasti berakhir, hilang, punah," kata Amien Rais dalam video tersebut, dikutip Kamis (4/6/2026).
Dirinya kemudian menarik komparasi historis dengan runtuhnya panggung kekuasaan rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden ke-2 Republik Indonesia Soeharto beberapa dekade silam.
"Pak Harto, presiden paling lama berkuasa dalam sejarah Indonesia selama 32 tahun akhirnya harus turun panggung secara tragis," ujarnya.
Amien Rais menduga ada upaya sistematis dari lingkaran istana pada periode sebelumnya untuk mempertahankan kendali kepemimpinan nasional melampaui batas konstitusi yang legal.
"Mas Kowi pernah menjelang berakhirnya kekuasaan kepresidenannya pada Oktober 2024, mencoba tambah satu periode ketiganya," ucapnya.
Hasrat politik itu dinilai bergulir memanfaatkan situasi krisis kesehatan masyarakat ketika dinamika roda pemerintahan sedang berjalan tidak efektif akibat terpaan pandemi global.
"Saat wabah Covid 19 menyebabkan pemerintahannya tidak produktif dan lain-lain. Otak dan hatinya yang gelap membisikinya, supaya Jokowi bisa nambah lima tahun lagi," tuturnya.
Langkah politis tersebut diyakini melibatkan upaya restrukturisasi regulasi dasar negara secara paksa melalui forum tertinggi di lembaga legislatif demi meloloskan kepentingan kelompok tertentu.
"Untuk itu diupayakan agar MPR dapat melakukan sidang istimewa untuk mengubah Pasal 7 UUD 1945," katanya.
Bukan hanya itu ia juga menyoroti adanya intervensi hukum di lembaga peradilan tertinggi negara demi melancarkan jalan bagi kelanjutan regenerasi politik keluarga di tingkat nasional.
"Kemudian langkah edan yang sudah dilakukan Kowi, antara lain, memaksa Mahkamah Konstitusi (MK)," ucapnya.
Tokoh gaek tersebut juga memberikan tanggapan sinis mengenai agenda perjalanan ke berbagai daerah yang dilakukan demi mendongkrak popularitas wadah politik baru bentukan sang anak bungsu.
"Katanya menyapa masyarakat dan mengenalkan PSI yang diketuai Kaesang Pangarep, anak bungsu Mas Kowi," tuturnya.
Pada bagian akhir penjelasannya ia menyitir argumentasi tertulis dari Buni Yani yang mengekspresikan dinamika penolakan serta kegaduhan di tengah masyarakat akibat aktivitas kunjungan wilayah tersebut.
"Kata Buni Yani, banyak rakyat yang menolak Jokowi keliling Indonesia, cuma bikin gaduh," imbuhnya.
Ia menutup pernyataan dengan menyampaikan kembali sindiran tajam dari rekannya itu yang mempertanyakan keabsahan dokumen akademis milik sang mantan presiden di masa lalu.
"Kata Mas Buni, seharusnya Jokowi membawa ijazah asli. Masa terduga ijazah palsu tidak punya malu Carson," pungkasnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok